Petugas KPPS di Bandung Jadi Korban Hoaks, Keluarga Tolak Visum

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga melakukan tabur bunga untuk menghormati penyelenggara Pemilu 2019 yang gugur. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warga melakukan tabur bunga untuk menghormati penyelenggara Pemilu 2019 yang gugur. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Kabar hoaks meninggal karena diracun mengiringi kepergian petugas KPPS 33 Kelurahan Kebon Jayanti, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, bernama Sita Fitriati. Sita meninggal pada 8 Mei karena sakit.

Hoaks yang beredar di media sosial itu sontak mengejutkan keluarga Sita. Kakak kandung Sita, Muhammad Rizal, memastikan kabar diracun tersebut tidak benar.

"Itu sama sekali tidak (benar). Tidak ada yang datang ke kita menanyai segala macam, enggak ada," kata Rizal melalui pesan singkat, Jumat (10/5).

Tangkapan layar hoaks petugas KPPS di Bandung meninggal karena diracun. Foto: Dok. Istimewa

Rizal menjelaskan hoaks itu mulai terdeteksi karena informasi yang tak akurat. Mulai dari kesalahan usia, letak TPS, hingga foto yang dilingkari oleh si penyebar hoaks. Orang yang dilingkari dalam foto tersebut bukanlah Sita, melainkan putri dari Ketua RW 12 yang masih hidup.

"Bahwa itu kan nama Sita Fitriati, betul adik kita. Umur itu salah 21, yang sebenarnya 23 tahun. Sudah ngarang-ngarang aja itu orang, dan fotonya bukan adik kita. Kalau yang dilingkari anaknya dari Pak RW, kacau itu berita," ujar dia.

embed from external kumparan

Rizal menjelaskan kesehatan adiknya memang sudah menurun sebelum bertugas sebagai petugas KPPS. Namun, kata dia, ketika itu Sita memang terlihat bersemangat untuk menjalani tugas mengawal proses demokrasi. Hal tersebut terlihat dari perilakunya yang biasanya murung menjadi ceria.

Rizal pun menuturkan, karena sedang tidak sehat, Sita kerap mendapat keringanan ketika menjalankan tugas sebagai petugas KPPS. Apabila kawan-kawannya pulang pukul 02.00 dini hari, Sita diperbolehkan pulang pukul 23.00 malam.

"Sebelumnya sakit, cuma dia tidak pernah mengeluh sakitnya apa. Jauh sebelum pemilu juga sudah agak kurang sehat sepertinya," jelas Rizal.

Rizal menambahkan, sebelum meninggal dunia, adiknya sempat mendapat perawatan di rumah sakit selama tiga hari. "Sebelum meninggal di rumah sakit selama tiga hari. Di rumah sakit juga enggak ada pemeriksaan," ungkap dia.

Petugas KPPS menyiapkan surat suara pada pemungutan suara. Foto: Helmi Afandi/kumparan

Terkait hoaks tentang kematian Sita, Rizal mengungkap pihak keluarga mengetahui melalui grup WhatsApp kerabat. Rizal khawatir hoaks tersebut akan dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk kepentingan politik.

"Kita khawatirnya di musim politik, Sita juga petugas KPPS kebetulan dan malah dibikin gini," kata dia.

Rizal mengatakan, hari ini dirinya melaporkan hoaks itu ke Polsek Kiaracondong dan Polrestabes Bandung. Dia pun menegaskan, pihak keluarga tidak mengizinkan adiknya divisum.

"Tidak perlu dan tidak mengizinkan, karena kami selaku keluarga menyaksikan sendiri bagaimana kondisi adik kami. Kalau pun mau info mengetahui penyakitnya, kan bisa langsung minta ke rumah sakit," tegas Rizal.