Photo Story: Sekolah Terpal di Bogor

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Wilayah terpencil sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Wilayah terpencil sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Belasan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sirna Asih, berjalan hati-hati di antara pematang sawah dengan tas terpanggul berisi buku dan alat tulis. Siswa perempuan yang berkerudung, mengambil posisi paling belakang, khawatir jalan di depan sedang tak bagus untuk dipijak.

Para murid sekolah terpal melewati hamparan sawah. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Para murid sekolah terpal melewati hamparan sawah. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Di jalan yang lain, Bapak Amit, seorang guru honorer, berjalan pelan dengan sepatu bootnya melintasi jalan menurun nan becek, sisa hujan yang beberapa hari terakhir sering turun. Dipanggulnya beberapa catatan dalam tas jinjing saat melintasi aliran sungai kecil selebar dua meter.

Jalan terpencil menuju sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jalan terpencil menuju sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Aktivitas itu rutin dilakukan saban pagi oleh para siswa SD dan Pak Amat juga Ibu Neni, untuk sampai di sekolah yang berjarak sekitar 3 km di Desa Banyuresmi, Kecamatan Cigudeg, Bogor. Desa ini berjarak 75 km dari pusat pemerintahan DKI Jakarta.

Murid dan guru sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Murid dan guru sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Tapi jangan dibayangkan perjuangan itu dibayar dengan kondisi sekolah yang layak, karena tempat mereka menuntut ilmu hanyalah bangunan kayu beratap terpal selebar 7 x 6 meter yang menempel dengan tembok rumah warga.

Tetap semangat belajar meski beratap terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Tetap semangat belajar meski beratap terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Tempat belajar lain adalah teras rumah salah satu warga, serta ruangan majelis taklim seukuran 6 x 5 meter. Tempat belajar ini satu-satunya sekolah yang menjadi harapan baru bagi 98 siswa SDN Sirna Asih untuk mengejar cita-cita.

Para murid sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Para murid sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Guru honorer di sekolah ini, selain Amat dan Neni, ada Ipah dan Kulsum warga asli Desa Banyuresmi yang juga mengabdikan diri untuk mengajar para siswa SDN Sirna Asih.

Sekolah terpal tak jadi halangan untuk belajar. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sekolah terpal tak jadi halangan untuk belajar. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Pada awalnya, kegiatan pembelajaran hanya merupakan kelompok belajar masyarakat yang diinisiasi oleh beberapa tokoh yang dituakan di kampung tersebut, yaitu Ketua RT Cecep, Bapak Rojak, dan Bapak Awaludin pada 2011-2013.

Para murid sekolah terpal belajar penuh semangat. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Para murid sekolah terpal belajar penuh semangat. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Pada tahun pembelajaran tahun 2013-2014, kelompok belajar Cisarua ini bergabung dengan SDN Sirna Asih atas permintaan tokoh masyarakat dan kepala UPT XXII Kecamatan Cigudeg saat itu. Dengan harapan, peserta didiknya tercatat diakui pemerintah, mendapatkan buku lapor dan Ijazah resmi, agar dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Murid sekolah terpal belajar menghitung. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Murid sekolah terpal belajar menghitung. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

“Kami harap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor lebih memperhatikan sarana pendidikan di pelosok,” ucap salah seorang guru.

Saksi perjuangan para murid sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Saksi perjuangan para murid sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Meski tidak pernah melakukan upacara pengibaran bendera Merah Putih seperti sekolah dasar pada umumnya, sekolah tenda biru ini selalu menutup kegiatan belajar mengajar dengan pembacaan Pancasila serta doa.

Sekolah terpal dengan pencahayaan minim. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sekolah terpal dengan pencahayaan minim. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Entah sampai kapan kondisi belajar seperti ini akan berlangsung. Tapi sekolah tanpa memakai sepatu dan bersahabat dengan jalan yang becek, bukanlah halangan bagi para murid SDN Sirna Asih.

Sekolah terpal SDN Sirna Asih. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sekolah terpal SDN Sirna Asih. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Karena di balik terpal itu ada Reni Atika yang ingin menjadi dokter, Eisa ingin menjadi guru, Tardi ingin menjadi wartawan, Imal ingin menjadi petani, begitu juga siswa-siswa lainnya yang punya harapan besar untuk masa depan.

Cita-cita yang dituliskan murid sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Cita-cita yang dituliskan murid sekolah terpal. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)