Picu Pro Kontra, Menteri Arab Saudi Tetap Batasi Volume Speaker Masjid

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jemaah haji mengenakan masker dan menjaga jarak saat salat di dalam Masjid Namira di Arafah, Makkah, Arab Saudi, Kamis (30/7). Foto: Saudi Ministry of Media/Handout
zoom-in-whitePerbesar
Jemaah haji mengenakan masker dan menjaga jarak saat salat di dalam Masjid Namira di Arafah, Makkah, Arab Saudi, Kamis (30/7). Foto: Saudi Ministry of Media/Handout

Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Penyuluhan Arab Saudi, Abdullatif al-Sheikh, mempertahankan kebijakannya soal pembatasan speaker masjid. Dia memerintahkan untuk mengecilkan volume pengeras suara/speaker eksternal/luar masjid.

Menurutnya, banyak keluarga yang mengeluhkan suara yang saling bersahutan dari speaker masjid menyebabkan anak-anak mereka tak bisa tidur.

Kebijakan Kementerian Urusan Islam itu keluar pekan lalu. Isinya, volume speaker luar masjid tak boleh melebihi sepertiga dari volume maksimum peranti.

Speaker luar hanya digunakan untuk azan dan iqamah. Sedangkan pelaksanaan salat berjemaah tidak perlu menggunakan speaker luar seperti kebiasaan selama ini.

Kebijakan ini tidak berlaku pada masjid tertentu, seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

kumparan post embed

Pada Senin (31/5), empat penduduk di Ibu Kota Riyadh menyebutkan bahwa beberapa, tetapi belum semua, masjid terdengar lebih pelan dibanding sebelumnya.

Hanya satu masjid saja yang masih menyiarkan ibadah salat dari awal hingga akhir lewat pengeras suara, dengan volume yang sekeras biasanya.

Dalam sebuah video yang dirilis oleh stasiun TV Al Ekhbariyah dan dikutip Reuters, perubahan aturan ini merupakan tindak lanjut dari banyaknya komplain masyarakat yang masuk atas volume suara yang terlalu keras, terutama dari para lansia dan orang tua yang mengatakan anak-anaknya tak bisa tidur karenanya.

“Mereka yang ingin salat tak perlu menunggu … suara imam. Mereka harusnya sudah berada di masjid dari sebelumnya,” ujar Menteri al-Sheikh.

Suasana salat Jumat pada Jumat terakhir bulan Ramadhan di Masjidil Haram, (7/5). Foto: Dok. gph.gov.sa

Pro Kontra

Pembatasan speaker masjid memicu pro kontra masyarakat Arab Saudi di media sosial.

Beberapa pengguna Twitter menyambut baik berkurangnya keramaian suara masjid di area mereka, meskipun beberapa juga menyatakan bahwa mereka merindukan suara lantunan doa.

Bahkan muncul tagar yang menyerukan pelarangan musik keras di restoran dan kafe.

Pengeras Suara Foto: shutterstock

“Selama pembacaan kitab suci Al-Quran lewat pengeras suara dimatikan atas alasan mengganggu beberapa orang, kami berharap perhatian yang sama juga diberikan kepada segmen-segmen yang terganggu oleh suara musik yang keras di restoran dan toko-toko,” ujar seorang pengguna Twitter, Mohammad al-Yahya.

Menteri al-Sheikh mengatakan bahwa kritik soal keputusan tersebut disebarluaskan oleh “pembenci” untuk mencari-cari masalah.

“Musuh Kerajaan Saudi ingin menggiring opini, menyebabkan keraguan akan keputusan negara, dan meruntuhkan persatuan nasional lewat pesan-pesan mereka,” tegas al-Sheikh.

Alasan selengkapnya Menteri al-Sheikh memerintahkan pembatasan speaker masjid bisa dibaca di bawah ini:

kumparan post embed