Pidato Menggebu Jokowi Isyarat Perlawanan terhadap Oposisi

Pidato Presiden Joko Widodo baru baru ini agak berbeda daripada biasanya. Di hadapan para relawan pendukungnya di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/4) lalu, dengang mengebu-gebu Jokowi berpidato menyinggung beberapa isu yang menyerang pemerintahannya saat ini.
Nada tinggi semakin dilontarkan Jokowi ketika menyinggung soal kritikan yang dinilai tidak ada dasarnya. Mulai dari pembagian sertifikat tanah yang dinilai sebagai pengibulan, utang negara, Indonesia bubar 2030 hingga kaus bertuliskan #2019GantiPresiden.
Gaya berbeda dari Jokowi kali ini menjadi sebuah isyarat kepada oposisinya. Jokowi ingin menunjukkan bahwa ia tidak tinggal diam ketika ada lawan politiknya yang terus-menerus menyerang dengan kritik tanpa fakta yang valid.
Pakar Psikologi Politik dari Universitas Indonesia Hamdi Muluk mengatakan, bahwa Jokowi selalu memiliki isyarat-isyarat tertentu kepada lawan politiknya.
"Jokowi ini adalah orang Jawa, yang kita kenal kalem dan santai. Namun, di balik itu semua Jokowi selalu menampilkan beberapa isyarat atau simbol kepada lawan politiknya," kata Hamdi saat dihubungi kumparan (kumparan.com), Minggu (8/4).
Namun, kali ini, kata Hamdi, isyarat yang ditunjukkan Jokowi berbeda seperti biasanya. Dalam pidato yang menggebu-gebunya, Jokowi, kata Hamdi, ingin menunjukkan kepada lawan politiknya bahwa ia tidak tinggal diam jika terus menerus diserang.
"Ibarat semut, kalau diinjak-injak terus dia juga bisa gigit," jelas Hamdi.
Menurut Hamdi, sikap Jokowi dalam pidatonya yang menggebu-gebu ini, ingin menyampaikan pesan kepada oposisi, bahwa mereka sudah keterlaluan mengkritik tanpa dasar dan fakta.
"Dalam diri Jokowi ingin mengatakan kepada lawannya, 'kalian ini sudah keterlaluan'," kata Hamdi.
Salah satu yang menjadi hal yang dinilai positif dari pidato Jokowi oleh Hamdi, meski menggebu-gebu tapi sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata kasar seperti politisi lainnya ketika menyerang lawan.
"Simbol marah Jokowi ini ditunjukkan tidak dengan mengeluarkan kata-kata kasar, seprti goblok, bangsat dan lainnya. Beda seperti politisi yang lain," tutur Hamdi.
Perlawanan Jokowi kepada para oposisinya, mendapat berbagai tanggapan dari semua kalangan. Ada yang mengapresiasi pidato 'keras' Jokowi ini, namun ada juga yang tetap berpandangan miring dan berpendapat bahwa pidato Jokowi itu seperti stand up comedy.
"Ya kalau keluarnya dari oposisi, tentu saja apa pun yang dilakukan Jokowi pasti dipandangnya salah, walau pun itu sudah benar dilakukan," tutupnya.
