Pidato Prabowo di Jepang: Rakyat Menuntut Pemerintahan yang Bersih dan Efisien

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Jepang, Senin (30/3/2026). Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Jepang, Senin (30/3/2026). Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden

Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya membangun pemerintahan yang bersih dan efisien dalam pidato kunci di Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Senin (30/3).

Forum ini diikuti oleh para pemimpin dunia usaha kedua negara. Sejumlah kerja sama bisnis diteken.

Menurut Prabowo, tuntutan terhadap tata kelola pemerintahan yang baik datang langsung dari masyarakat.

"Rakyat kita menuntut tata pemerintahan yang baik, tata pemerintahan yang bersih, dan tata pemerintahan yang efisien. Dan saya bertekad untuk melanjutkan apa yang telah saya mulai ketika menerima mandat dari rakyat saya," ujar Prabowo dalam bahasa Inggris.

Presiden Prabowo Subianto, bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana (kelima kiri), saat melakukan kunjungan ke Tokyo, Jepang. Foto: Dok. Kemenpar

Soroti Ketidakpastian Global

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyoroti situasi global yang dinilai semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.

"Saat ini kita hidup dalam lingkungan global yang berbeda, penuh risiko, penuh ketidakpastian. Mempertahankan hubungan ekonomi yang rasional sangatlah penting," katanya.

Prabowo menuturkan, Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbuka yang bergantung pada perdagangan dan kemitraan internasional.

"Filosofi kami adalah 1.000 teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Indonesia berada dalam posisi yang nyaman karena kami tidak memiliki musuh," ungkapnya.

Selain isu tata kelola dan ekonomi, Prabowo menyoroti pentingnya perlindungan sumber daya alam, khususnya hutan.

"Hutan kita harus dilindungi. Hutan-hutan yang telah hancur, kita harus melakukan reboisasi besar-besaran, bukan hanya untuk kebaikan Indonesia tetapi juga untuk kebaikan dunia," ujarnya.