Pidato Suharso Monoarfa soal Amplop Buat Kiai Undang Kontroversi, PPP Minta Maaf

19 Agustus 2022 11:22
·
waktu baca 3 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa menyampaikan pidato sebelum menyerahkan berkas pendaftaran partai politik calon peserta Pemilu 2024 di gedung KPU, Jakarta, Rabu (10/8/2022). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa menyampaikan pidato sebelum menyerahkan berkas pendaftaran partai politik calon peserta Pemilu 2024 di gedung KPU, Jakarta, Rabu (10/8/2022). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa menuai polemik karena dinilai merendahkan kiai dan pondok pesantren dalam pidato saat pembekalan antikorupsi bagi PPP di Gedung ACLC KPK, Senin (15/8).
Dalam pidatonya, Suharso cerita saat baru diangkat sebagai Plt Ketua Umum, dia sowan ke kiai-kiai di ponpes besar. Dia menyebut jika bertemu kiai maka harus ada amplopnya.
Pendakwah, Gus Miftah, mempertanyakan pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional itu. Dia menilai pidato Suharso sangat menghina marwah kiai dan pondok pesantren.
"Tidak ada permintaan kiai kepada para santri dan jemaah kalau sowan harus kasih amplop atau apa pun. Kalau toh ada itu justru inisiatif dari santri atau jemaah yang sifatnya sukarela sebagai rasa mahabbah seorang santri kepada kiai," ucap Gus Miftah dalam Instagramnya dikutip Jumat (19/8).
"Kali ini Anda menghina kiai dan pesantren dengan kalimat yang menyakitkan. Saya sebagai santri yang biasa sowan kiai untuk tabarukan dan ngalap berkah meminta Anda untuk klarifikasi dan minta maaf!" imbuhnya.

DPP PPP Minta Maaf

Suharso saat dikonfirmasi kumparan belum merespons. Namun, Wakil Ketua Umum PPP, Arsul Sani, menyampaikan permintaan maaf atas pidato Suharso karena dinilai merendahkan martabat atau menghina para kiai.
"Kami memohon maaf yang setulus-tulusnya kepada para kiai dan berjanji bahwa jajaran PPP lebih berhati-hati atau ikhtiyat dalam berucap dan bertindak ke depan agar tidak terulang lagi," ujar Arsul dalam rilisnya.
Arsul Sani mengklarifikasi, dalam pidato di KPK itu, Suharso tidak bermaksud untuk merendahkan atau menghina kiai, namun ungkapan hadiah atau pemberian kepada kiai memang membuka ruang untuk ditafsirkan sebagai merendahkan para kiai.
"Ini menjadi pembelajaran bagi kami semuanya untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang publik. Tidak boleh lagi 'terpeleset' atau 'slip of tounge' menyampaikan sesuatu yang berpotensi menimbulkan kontroversi, resistensi atau kesalahpahaman di ruang publik," tuturnya.
PPP selain meminta maaf, juga mohon doa dan nasihat para alim ulama dan kiai agar lebih istikamah dalam memperjuangkan ajaran Islam dan melakukan amar ma'ruf nahi munkar di bidang politik sesuai dengan tugas partai politik.
"Ke depan memperjuangkan kebijakan dan legislasi yang tidak melanggar atau merugikan ajaran Islam akan makin berat, karena itu partai Islam seperti PPP perlu tetap eksis," pungkasnya.
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa menyampaikan pidato sebelum menyerahkan berkas pendaftaran partai politik calon peserta Pemilu 2024 di gedung KPU, Jakarta, Rabu (10/8/2022). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa menyampaikan pidato sebelum menyerahkan berkas pendaftaran partai politik calon peserta Pemilu 2024 di gedung KPU, Jakarta, Rabu (10/8/2022). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
Berikut penggalan pidato Suharso:
Ini ada satu cerita, ketik saya kemudian menjadi Plt Ketua Umum (PPP), saya mesti bertandang kepada beberapa kiai besar, pada pondok pesantren besar. Ini demi Allah dan Rasul-Nya terjadi. Saya datang ke kiai itu dengan beberapa kawan, lalu saya pergi begitu saja. Ya saya minta didoain kemudian saya jalan, tak lama kemudian saya dikirimi pesan, diWhatsApp, "Pak Plt, tadi ninggalin apa enggak untuk kiai". Saya bilang ninggalin apa? Saya enggak tertinggal sesuatu di sana, mungkin ada barang cucu saya waktu itu saya bawa. 'Oh enggak ada sesuatu." Oh nanti saja.
Maka sampailah setelah itu ketemu lalu dibilang kepada saya, 'Begini Pak Plt, kalau datang ke beliau-beliau itu mesti ada tanda mata yang ditinggalkan'. Wah, saya enggak bawa, tandanya matanya apa? Sarung? Peci? Al-Quran atau apa?. 'Kayak enggak ngerti saja, Pak Harso ini'. Gitu Pak.
Than I have to provide that one, every where. Dan setiap ketemu, Pak, enggak bisa, Pak. Bahkan sampai hari ini kalau kami ketemu di sana, itu kalau salamannya itu enggak ada amplopnya itu, Pak, pulangnya itu sesuatu yang hambar.