Pilu Dokter Icha Meninggal, Keluarga Sebut Depresi-Diintimidasi Anggota DPRD TTU

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jenazah dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni saat berada di rumah keluarga. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Jenazah dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni saat berada di rumah keluarga. Foto: Dok. Istimewa

Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dokter Icha (27), tenaga medis di Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Desa Baumata Barat, Kecamatan Taibenu, Kabupaten Kupang, pada Jumat (26/6) sekitar pukul 18.30 WITA.

Pihak keluarga menduga dokter Icha mengalami depresi berat setelah mendapat intimidasi dari tiga anggota DPRD Kabupaten TTU terkait penanganan seorang pasien yang mengalami gigitan ular hijau. Pasien tersebut diketahui merupakan keponakan salah satu anggota dewan.

Paman korban, Fabi Banase, menyebut tiga anggota DPRD yang dimaksud ialah Veronika Lake dari PDI Perjuangan, Therensius Lazakar dari Partai Golkar, dan Norbertus Tubani dari PKB.

Menurut Fabi, saat mendatangi Unit Gawat Darurat (UGD) RS Leona Kefamenanu, dua dari tiga anggota dewan tersebut diduga dalam kondisi dipengaruhi minuman keras.

"Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD," ungkap Fabi, Sabtu (27/6).

Keluarga Sebut Korban Alami Depresi Berat

Fabi mengatakan kondisi psikologis dokter Icha terus memburuk setelah insiden tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kejiwaan yang diterima keluarga, dokter Icha didiagnosis mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik. Korban juga disebut sempat melakukan percobaan bunuh diri.

"Pada Rabu (23/6), setelah pulang dari Kefamenanu, hasil pemeriksaan di Klinik Utama Dewantara menunjukkan almarhum mengalami depresi berat hingga sempat mencoba mengakhiri hidup," jelas Fabi.

Keluarga juga menyebut dokter Icha sempat menjalani perawatan di RS Leona Kefamenanu akibat tekanan batin yang dialaminya.

Atas peristiwa tersebut, keluarga berencana menempuh jalur hukum karena menduga terdapat unsur ancaman dan intimidasi.

"Salah satu di antara mereka berucap dengan nada tinggi, 'Kau akan bertemu saya di Komisi III'," tambah Fabi.

Keluarga berharap pimpinan DPRD TTU maupun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) segera mengambil sikap terkait peristiwa tersebut.

Dugaan Intimidasi

Victor Manbait, yang merupakan keluarga dokter Icha, mengatakan peristiwa bermula saat korban bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu.

Menurut Victor, dokter Icha telah menjalankan tugas secara profesional sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit dan arahan dokter spesialis anak.

Ketegangan muncul ketika keluarga pasien meminta diberikan jenis vaksin tertentu yang menurut pertimbangan medis belum dianjurkan serta tidak tersedia di rumah sakit tersebut.

Victor menyebut dua orang yang mengaku sebagai anggota DPRD Kabupaten TTU kemudian mendatangi ruang perawatan dan memprotes penanganan pasien dengan nada suara tinggi. Salah satu di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dokter Icha saat meminta penjelasan.

Akibat insiden itu, dokter Icha disebut mengalami tekanan psikologis yang berat hingga menangis saat bertugas. Kondisinya terus memburuk dan akhirnya harus menjalani perawatan medis setelah ditemukan dalam keadaan lemah di tempat tinggalnya.

"Dokter Icha mengaku masih merasa ketakutan dan tertekan secara batin akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas," ungkap Victor.

Anggota DPRD Membantah

Menanggapi tudingan tersebut, dua anggota DPRD TTU yang disebut terlibat, yakni Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah melakukan intimidasi terhadap tenaga medis.

"Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi," kata Therensius.