Pilu Siswa Yatim di Samarinda Meninggal, Sempat Pakai Sepatu Kekecilan
·waktu baca 2 menit

Seorang siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, Mandala Rizky Syaputra (16), meninggal dunia setelah mengalami sakit yang disertai pembengkakan pada kaki. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan penggunaan sepatu sekolah yang sudah tidak sesuai ukuran.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena memperlihatkan kombinasi masalah kesehatan, keterbatasan ekonomi, dan akses layanan yang tidak optimal.
Kondisi Ekonomi Keluarga
Mandala merupakan anak yatim yang tinggal bersama kakak dan tiga adiknya. Ibunya, Ratnasari, bekerja sebagai penjual risoles keliling.
Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, menjelaskan kondisi keluarga yang terbatas membuat kebutuhan dasar, termasuk perlengkapan sekolah, sulit terpenuhi.
“Sepatu itu tetap dipakai setiap hari. Bahkan diganjal dengan foam agar tidak terlalu keras, tapi justru menyebabkan kakinya bengkak,” ujar Rina.
Sejak kelas 1 SMK, Mandala menggunakan sepatu ukuran 43. Namun saat naik kelas, ukuran kakinya bertambah menjadi 45.
Keluhan Sakit hingga Memburuk
Keluhan awal muncul sebagai rasa nyeri ringan di kaki. Namun dalam waktu sekitar tiga minggu, pembengkakan mulai terlihat dan semakin parah.
“Kurang lebih dua minggu pertama belum ada bengkak. Setelah sekitar 20 hari, bagian atas kaki mulai membesar,” kata Ratnasari.
Kondisi tersebut diperparah saat Mandala menjalani magang di pusat perbelanjaan yang mengharuskannya berdiri dalam waktu lama.
Rasa sakit kemudian menjalar hingga ke pinggang dan kepala.
Upaya Pengobatan Terbatas
Sehari sebelum meninggal, Mandala sempat mendapat suntikan di klinik sekitar tempat tinggal.
“Setelah disuntik, dia bilang sudah tidak terlalu sakit. Kami kira membaik,” ujar Ratnasari.
Namun, kondisi tidak benar-benar pulih.
Permintaan Terakhir
Malam sebelum meninggal dunia, Mandala sempat menyampaikan keinginan untuk memiliki sepatu baru.
“Dia bilang ingin sepatu untuk terakhir kalinya. Tapi saya tidak bisa membelikan,” tutur Ratnasari.
Mandala meninggal dunia pada Jumat (24/4/2026).
Upaya Bantuan dari Sekolah
Pihak SMK Negeri 4 Samarinda menyatakan selama ini telah memberikan berbagai bantuan, mulai dari perlengkapan sekolah hingga bantuan sembako.
Sekolah juga sempat membantu dana pengobatan dan berupaya mengaktifkan kembali BPJS keluarga, namun terkendala administrasi.
Pada 23 April, wali kelas dan teman-teman datang membawa bantuan serta berencana membelikan sepatu baru dan membawa Mandala ke fasilitas kesehatan.
Rencana tersebut belum sempat terlaksana.
Sekolah Tanggung Pemulasaraan
Setelah Mandala meninggal, sekolah mengambil alih proses pemulasaraan hingga pemakaman karena keterbatasan ekonomi keluarga.
"Melihat keterbatasan ekonomi keluarga sekolah turun tangan penuh dalam proses fardu kifayah," tulis pihak sekolah.
