Pilunya Siswa SD di Semarang: Akses Jembatan dan Sekolah Hampir Roboh

Di tengah pesatnya pembangunan di Kota Semarang, terselip kisah pilu yang menimpa para siswa yang bersekolah di SD Negeri Jabungan.
Sejak beberapa hari terakhir, akses jembatan sepanjang 81 meter yang digunakan para siswa menuju ke sekolah dalam kondisi yang memprihatinkan.
Tanah amblas di ujung jembatan mengancam nasib para siswa. Jembatan itu tinggal menunggu waktu untuk roboh jika tidak segera diperbaiki.
Jembatan itu sebenarnya sudah sempat dipugar oleh pemerintah setempat saat rusak pada tahun 2017. Namun sejak Senin (29/4), kondisinya semakin parah lantaran hujan deras yang mengguyur Kota Semarang sehingga membuat tanah amblas.
"Sabtu (4/4) kemarin masih tidak apa-apa. Kondisi ini terjadi Senin kemarin pas hujan deras. Kalau pas orang tua ndak bisa jemput ya khawatir sekali. Harapannya ya segera diperbaiki biar kita tidak khawatir," kata Mandra, warga setempat, ditemui saat menjemput sekolah anaknya, Kamis (2/5).
Harapan itu terlontar di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional 2019 yang jatuh hari ini.
Harapan serupa juga disampaikan seorang siswa kelas 2 SD Jabungan, Caila. Gadis cilik itu berharap jembatan diperbaiki. Sebab jika tidak, maka ia harus melintasi sungai untuk menuju sekolahnya.
"Setiap hari lewat sini, takut. Tapi kalau berangkat tidak ada jembatan, lewatnya sungai," kata Caila.
Tak hanya jembatan saja yang rusak, kondisi bangunan SD Jabungan juga memprihatinkan. Sekolah yang letaknya tak jauh dari jembatan itu terdampak tanah yang bergerak.
Beberapa ruangan harus diberi pembatas karena lantai retak, ternit jebol, dan tembok juga retak. Ada juga ruangan yang sama sekali tak boleh dimasuki karena berbahaya.
"Ini sekitar 1 bulan yang parahnya. Pak Wali (Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi) pernah ke sini, saat itu kondisi sekolah masih baik. Kondisi parahnya baru sekitar sebulanan ini," kata guru di SD Jabungan, Muhtarom.
Ruangan yang terdampak cukup parah yaitu ruang UKS, perpustakaan, ruang guru dan juga ruang kepala sekolah. Muhtarom menjelaskan, garis pembatas diberlakukan agar siswa tetap aman di lingkungan sekolah.
Muhtarom pun berharap Pemkot Semarang bisa merelokasi sekolah ke tempat yang lebih baik agar siswa bisa belajar dengan tenang.
"Pemkot kan punya tanah di dekat jembatan, kalau direlokasi kan di sana dekat Puskesmas, (bisa) membantu dan tanahnya tidak seperti ini," ujarnya.
