Pimpinan Komisi X DPR soal TNI AD Masuk Kampus: Husnuzon Aja Tak Ada Intervensi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Personel Kompi Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Zeni TNI AD menyisir keberadaan material diduga sisa bahan peledak dan amunisi yang terlempar hingga perumahan Cluster Visalia di Perumahan Kota Wisata, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Minggu, (31/3). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Personel Kompi Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Zeni TNI AD menyisir keberadaan material diduga sisa bahan peledak dan amunisi yang terlempar hingga perumahan Cluster Visalia di Perumahan Kota Wisata, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Minggu, (31/3). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

TNI ADI menuai sorotan terkait isu mengintervensi kampus. Isu ini mencuat setelah anggota militer mendatangi kampus Universitas Indonesia (UI) pada Rabu (16/4).

Tidak hanya itu, sebelumnya anggota TNI juga mendatangi Forum Teori dan Praktik Sosial (FTPS) yang sedang menggelar diskusi bertajuk ‘Fasisme Mengancam Kampus: Bayang-Bayang Militer Bagi Kebebasan Akademik’ di samping Auditorium 2 Kampus III UIN Walisongo, Semarang, pada Senin (14/4).

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menilai, kunjungan anggota TNI untuk memberikan pembelajaran mengenai wawasan kebangsaan kepada para mahasiswa.

“Ya, tentu kita husnuzon aja bahwa maksud dan tujuannya kan sebenarnya ingin menanamkan wawasan kebangsaan kepada mahasiswa-mahasiswi kita yang ada hari itu di kampus. Ingin menanamkan kecintaan terhadap tanah air, ingin menanamkan bela negara,” kata Lalu kepada wartawan di Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (23/4).

Wakil Ketua Komisi X Lalu Hadrian Irfani saat dijumpai di Nusantara I, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (23/4/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan

Lalu menegaskan, sejauh ini tidak ditemukan adanya intervensi yang dilakukan anggota TNI kepada mahasiswa saat berkunjung.

Kendati demikian, dia mengingat kepada Kemendiktisaintek selaku penyelenggaraan pendidikan tinggi untuk tetap mengawasinya. Jangan sampai pembelajaran tersebut berubah menjadi pembungkaman kebebasan mahasiswa.

“Sejauh ini kami belum melihat intervensi yang terlalu dalam ya terkait dengan korelasi-korelasi yang disampaikan tadi. Tetapi kami di Komisi 10 selalu mengingatkan, baik Kemendiktisaintek maupun kementerian atau lembaga terkait,”jelasnya.

“Agar jangan sampai TNI yang tadinya bertujuan untuk menanamkan wawasan kebangsaan, bela negara, kemudian menambah cinta tanah air bagi mahasiswa-mahasiswa kita, berubah menjadi tindakan-tindakan lain di luar tindakan tersebut, termasuk represif, pengancaman, dan sebagainya,” lanjut dia.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana. Foto: Dok. TNI AD

Penjelasan TNI AD

Kadispenad Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menegaskan, kehadiran TNI khususnya TNI AD di sejumlah kampus karena ada kesepakatan kerja sama resmi/sah.

Selain itu, TNI AD mendapat undangan resmi untuk menyampaikan materi edukasi terhadap para calon mahasiswa maupun civitas akademika.

"Kami perlu menegaskan bahwa tidak pernah ada kegiatan prajurit TNI di dalam kampus-kampus di Indonesia yang dinarasikan sebagai upaya militerisasi. Kehadiran TNI AD di Kampus selama ini selalu berdasarkan prinsip kerja sama yang sah, bersifat edukatif dan dilakukan atas undangan atau koordinasi dengan pihak kampus," kata Wahyu kepada wartawan, Minggu (20/4).

Wahyu lantas mengingatkan berdasarkan sejarah TNI AD adalah bagian dari rakyat. Tugas TNI adalah menjaga stabilitas nasional, termasuk menjalin hubungan baik dengan seluruh elemen bangsa, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa.