Plt Gubernur Aceh Lantik Bupati Bener Meriah Gantikan Ahmadi

Pelaksana Tugas (PLT) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, melantik Teungku Syarkawi sebagai Bupati Bener Meriah. Syarkawi menggantikan Ahmadi yang terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus korupsi Dana Otonomi Khusus Aceh.
Pelantikan Syarkawi berlangsung dalam sidang paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bener Meriah. Syarkawi dilantik untuk sisa masa jabatan 2017-2022.
Usai pelantikan, Nova Iriansyah mengingatkan sebagai kepala pemerintahan seorang bupati memiliki kewajiban merangkul semua elemen yang ada, untuk bekerjasama membangun Bener Meriah sehingga segala potensi dapat dioptimalkan.
“Sebagai Kepala Pemerintahan, saudara adalah milik seluruh elemen masyarakat Bener Meriah, bukan lagi milik partai pengusung. Karena itu, merangkul semua elemen masyarakat Bener Meriah menjadi tanggungjawab saudara. Ingat, hanya dengan sinergi dan kolaborasi bersama seluruh elemen, maka pembangunan akan berjalan dengan baik di Bener Meriah,” kata Nova, dalam keterangannya, Selasa (30/4).
Nova berpesan, sebagai bupati yang baru dilantik Syarkawi diminta untuk bekerja dengan sepenuh hati, tulus dan ikhlas, dengan mengedepankan azas transparansi dan akuntabilitas.
“Jalankan program-program pembangunan yang pro rakyat, serta rancanglah penggunaan belanja daerah yang mengutamakan belanja publik,” imbau Plt Gubernur.
“Bersikaplah tegas dan bijaksana dalam menginisiasi lingkungan kerja yang sadar hukum, sehingga saudara mampu mencegah tindakan yang mengarah kepada Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, serta menghadirkan pemerintahan yang memberikan pelayanan terbaik kepada rakyat,” tambahnya.
Bupati Bener Meriah juga diimbau untuk terus mendorong semangat reformasi birokrasi yang berkenaan dengan akuntabilitas kinerja dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
“Bangun komunikasi efektif dengan legislatif. Upayakan pembahasan dan pengesahan APBK tepat waktu agar pembangunan setiap tahunnya dapat dimulai lebih awal.”
Bener Meriah Memiliki Hutan yang Luas
Selain dikenal sebagai daerah penghasil kopi dan tanaman holtikultura, Kabupaten Bener Meriah juga dikenal memiliki kawasan hutan yang luas. Karenanya, daerah berhawa sejuk ini memiliki dua peran sekaligus, yaitu sebagai pusat pengembangan tanaman pangan dan pengawal bagi pelestarian hutan Aceh.
“Bener Meriah banyak menghasilkan komoditi holtikultura, yang harus dioptimalkan demi peningkatan kesejahteraan rakyat. Kabupaten ini juga memiliki kawasan hutan lindung, hutan produksi, dan hutan marga satwa yang luas. Potensi ini harus kita jaga agar Bener Meriah menjadi pusat pengembangan tanaman pangan, dan pengawal bagi pelestarian hutan Aceh,” ujar Nova.
Berdasarkan data BPS, sekitar 78,76 persen penduduk Bener Meriah berprofesi sebagai petani. Komoditi paling terkenal dari daerah ini adalah kopi Arabika yang produksinya telah menembus pasar Eropa dan Amerika. Selain itu, tanaman holtikultura seperti kentang, lada, cengkeh, tembakau dan ragam buah–buahan.
Nova mengimbau agar Pemkab memberi perhatian lebih serius terhadap sektor agrobisnis dengan menerapkan teknologi dan inovasi bidang pertanian. Diyakini pengembangan sektor agrowisata akan memperkuat peran Bener Meriah sebagai pusat pengembangan tanaman pangan, dan pengawal bagi pelestarian hutan Aceh.
"Sesuai dengan rencana Menteri Pariwisata RI untuk membentuk Kawasan Ekonomi khusus Pariwisata, saya menantang Pemkab dan seluruh elemen di Bener Meriah untuk membentuk KEK Pariwisata. Potensi agrowisata dan kawasan hutan yang kita miliki tentu sangat mendukung terbentuknya KEK Pariwisata di Bener Meriah," pungkasnya.
