PLTA Jatigede yang Akan Segera Beroperasi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Bendungan Jatigede (Foto: Edy Sofyan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Bendungan Jatigede (Foto: Edy Sofyan/kumparan)

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, ditargetkan akan beroperasi pada 2019. PT PLN (Persero) mengklaim pembangkit tenaga air berkapasitas 2 x 55 Mega Watt yang bisa memproduksi listrik sampai 462,6 Gwh per tahun, tersebut kini pembangunannya sudah mencapai 19,04 persen.

PLTA Jatigede merupakan bagian dari proyek Waduk dan Bendungan Jatigede. Proyek yang sempat tertunda selama puluhan tahun, tersebut telah rampung pada Februari tahun lalu.

Bendungan Jatigede (Foto: Edy Sofyan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Bendungan Jatigede (Foto: Edy Sofyan/kumparan)

Proyek ini dikerjakan Kementerian pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan luas 90 ribu hektare yang meliputi Kabupaten Sumedang, Indramayu, dan Cirebon.

"Awalnya ini untuk irigasi, namun negara akan rugi jika tidak dibangun pembangkit listrik, harus dimanfaatkan untuk penggunaan energi baru terbarukan," kata Manajer Proyek PLTA Jatigede, Kadarisman, kepada kumparan (kumparan.com) di lokasi PLTA Jatigede, Sumedang, Kamis (6/4).

PLN umumkan PLTA Jatigede beroperasi 2019 (Foto: Edy Sofyan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
PLN umumkan PLTA Jatigede beroperasi 2019 (Foto: Edy Sofyan/kumparan)

Adapun PLTA Jatigede meliputi Kecamatan Jatigede (Desa Kadujaya, Desa Cijeungjing, dan Desa Karedok) dan Kecamatan Tomo (Desa Cipeles), Kabupaten Sumedang. Luas kawasan PLTA ini sebesar 141,5 hektare.

Saat kumparan dan beberapa media lainnya diajak berkeliling proyek, terlihat sejumlah pekerja dan alat berat masih sibuk melakukan berbagai aktivitas. Salah satunya ialah penggalian terowongan untuk saluran air.

Mesin berat seperti Roadhaeder diturunkan untuk menggali terowongan yang berdiameter 6,5 meter tersebut. Penggalian terowongan untuk saluran air maupun jalan akses dengan total panjang sekitar 4 kilometer

Terowongan air limbah yg diolah PLTA Jatigede. (Foto: Edy Sofyan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Terowongan air limbah yg diolah PLTA Jatigede. (Foto: Edy Sofyan/kumparan)

Selain mengerjakan penggalian terowongan, terlihat para pekerja yang tengah mengerjakan pembangunan power house yang berfungsi untuk menyimpan mesin turbin, tunneling bawah tanah, hingga pengurugan tanah dan berbagai pengerjaan lainnya.

"PLTA ini adalah yang pertama di Indonesia yang menggunakan sistem Silo atau sumur," ujarnya.

Terowongan air limbah yg diolah PLTA Jatigede. (Foto: Edy Sofyan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Terowongan air limbah yg diolah PLTA Jatigede. (Foto: Edy Sofyan/kumparan)

Kadariskam menjelaskan, dengan sistem tersebut, turbin untuk sumber listrik bisa dipantau dari bibir sumur. Terdapat dua mesin yang masing-masing mesinnya berkapasitas 55 MW.

"Selama ini kan memang turbin ditempatkan dengan sistem gua atau tertutup," jelas Kadarisman.

Adapun sumber air Waduk Jatigede adalah Sungai Cimanuk hulu. Debit air yang ditampung PLTA maksimal 73 m3 per detik. PLTA ini akan dioperasikan 5 jam per hari dari jam 5 sore sampai 10 malam.

Sungai Cimanuk, sumber air Waduk Jatigede (Foto: Edy Sofyan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sungai Cimanuk, sumber air Waduk Jatigede (Foto: Edy Sofyan/kumparan)

"Sebagai pendukung listrik di kawasan Sumedang, untuk mengurangi beban Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)150 kV Sunyaragi-Rancaekek," kata Kadarisman.

Setelah masuk turbin, air yang sudah digunakan untuk memproduksi listrik dialirkan ke Sungai Cimanuk hilir. Menurut Kadarisman, PLN sudah melakukan pengujian dan air dari turbin tersebut aman untuk dialirkan ke Cimanuk hilir.