PM Albania Tuduh Asing di Balik Demo Besar Berujung Rusuh

Perdana Menteri Albania Edi Rama menuduh pihak asing berada di balik demo berujung rusuh yang melanda negaranya. Unjuk rasa antipemerintah tersebut terpusat di Ibu Kota Tirana.
Sejak Selasa (13/10), aksi demo di Albania kerap berujung rusuh. Situasi semakin memanas setelah demonstran dari kalangan mahasiswa membawa tuntutan baru, yakni perbaikan kondisi kampus dan pemberantasan korupsi.
Untuk membubarkan demo, polisi di Albania kerap menggunakan berbagai cara, seperti menembakkan gas air mata, meriam air, hingga peluru karet.
Cara-cara tersebut digunakan untuk mencegah serangan demonstran yang berupaya merusak hingga membakar gedung pemerintahan.
Awalnya, demo berujung rusuh di Albania terjadi dalam skala kecil. Namun, pada Selasa (20/10), eskalasi demonstrasi meningkat setelah para pengunjuk rasa meneriakkan tuntutan agar PM Rama yang berkuasa sejak 2013 mengundurkan diri.
Untuk mencegah pembubaran paksa, para pengunjuk rasa membakar sampah dan menggunakannya sebagai barikade pelindung.
Otoritas Albania menyebut sekitar 300 orang terluka selama sepekan kerusuhan. Mereka mengeklaim sebagian besar korban luka merupakan polisi.
Pada Selasa (20/10) pagi, Rama angkat bicara mengenai kerusuhan besar di Albania. Dia meyakini aksi kekerasan dalam demonstrasi ditunggangi pihak asing, yakni Rusia dan Iran, yang dituduh menyebarkan kebohongan di dunia maya.
"Saat ini sudah dikenal dan menjadi isu besar di seluruh Eropa," kata Rama dalam siaran langsung televisi seperti dikutip dari AFP.
"Ini adalah perang hybrid yang mendapatkan daya tarik justru karena berakar pada keluhan yang tulus, bukan sekadar khayalan,โ sambung Rama.
Rama juga membuka peluang untuk memblokir akses media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun di Albania.
Rama, politikus dengan tinggi badan 201 cm, memimpin pemerintahan usai memenangi Pemilu Parlemen 2013. Dia lalu melanjutkan kepemimpinannya secara beruntun lewat kemenangan di Pemilu 2017 dan 2021.
