PM Israel Netanyahu Kalah dalam Pemungutan Suara di Komite Parlemen

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kalah dalam pemungutan suara di parlemen pada Senin (19/4). Akibat kekalahan itu, Netanyahu berada dalam ancaman karena ia tengah berusaha membentuk pemerintahan baru setelah Pemilu.
Pemilihan parlemen Israel sangat krusial karena akan menentukan siapa yang akan bergabung dengan Arrangements Committee atau Komite Pengaturan. Mereka nantinya bertugas mengatur agenda legislatif.
Dikutip dari Reuters, Netanyahu masih memiliki sisa waktu dua pekan untuk membentuk koalisi. Kekalahan itu mengindikasikan Netanyahu akan memiliki jalan yang cukup rumit untuk mengamankan kursi mayoritas di Knesset atau parlemen.
Usai mosi yang disampaikan oleh Likud, partai sayap kanan pimpinan Netanyahu, ditolak dalam voting tertutup, proposal Yair Lapid--yang menunjukkan representasi blok anti-Netanyahu yang lebih kuat--berhasil lolos.
Sementara satu Partai Islam telah menyatakan dukungannya untuk bekerja sama dengan Netanyahu.
Sedangkan Presiden Reuven Rivlin sejak 6 April telah memerintahkan Netanyahu untuk membentuk pemerintahan dan memberikan dia waktu 28 hari. Jika gagal, Netanyahu dapat meminta perpanjangan 2 pekan kepada Rivlin.
Namun pada akhirnya Presiden bisa memilih kandidat lain atau meminta parlemen untuk memberikan calon lain dalam menyusun pemerintahan baru jika Netanyahu nantinya dinyatakan gagal.
