PM Pakistan Imran Khan Tuduh AS Coba Gulingkan Pemerintahnya

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan melayangkan tudingan kepada Amerika Serikat (AS) pada Kamis (31/3/2022). Khan menuduh, AS mencampuri urusan politik di Pakistan.
Tuduhan itu muncul ketika Khan menghadapi tantangan terbesar sejak terpilih pada 2018 lalu. Oposisi Khan menuding Khan salah mengelola ekonomi dan kebijakan luar negeri.
Permasalahan yang didera Pakistan tidak terhenti pada bidang ekonomi. Taliban juga telah menunjukkan peningkatan aktivitas militansi. Pada Rabu (30/3/2022), mereka mengumumkan rencana serangan terhadap pasukan keamanan selama Ramadhan.
Perdebatan perihal mosi tidak percaya terhadap Khan pun akan dimulai pada Kamis (31/3/2022). Namun, mosi itu kini ditunda.
Khan yang sedang berjuang mempertahankan kekuasaan kemudian menyinggung AS. Saat berpidato pada Kamis (31/3/2022) malam waktu setempat, ia tampak salah menyebut keterlibatan negara itu.
Khan mengatakan, ia mendapati bukti campur tangan negara asing dalam pemerintahannya. Media lokal melaporkan, hal itu tertuang dalam surat pengarahan dari Duta Besar Pakistan untuk Washington, Asad Majeed Khan.
Surat itu menunjukkan pernyataan dari pejabat senior AS. Pejabat itu menyatakan, hubungan Pakistan-AS akan lebih baik bila Khan meninggalkan jabatan.
"Amerika punya - oh, bukan Amerika tetapi negara asing yang tidak bisa saya sebutkan. Maksud saya, dari negara asing, kami menerima pesan," ucap Khan, seperti dikutip dari AFP.
"Mereka mengatakan bahwa 'kemarahan kami akan hilang jika Imran Khan kalah dalam mosi tidak percaya ini'," imbuh Khan
Khan telah mengangkat permasalahan itu sejak pekan lalu. Ia mengutip campur tangan ‘kekuatan asing’ pada rapat umum para pendukungnya di Islamabad. Tetapi, Khan tidak merujuk pada pihak tertentu.
Sedangkan dalam pidato terbaru, Khan menyentuh berbagai topik pembicaraan tanpa berbasa-basi. Khan juga mengeluhkan pengorbanan Pakistan dalam ‘perang melawan teror’ Washington. Kampanye militer itu diluncurkan usai serangan 11 September 2001.
Menurut Khan, pihaknya hanya menerima sedikit pengakuan dan penghargaan atas kontribusinya. Khan mengatakan, Pakistan telah mengorbankan puluhan ribu nyawa dan kerugian ekonomi miliaran dolar.
"Apakah ada yang mengatakan 'terima kasih Pakistan' atas apa yang kami lakukan?" tanya Khan.
Khan kemudian menegaskan upaya agar Islamofobia diakui sebagai ancaman global. Selain itu, ia turut membahas amarah Barat terhadap kunjungannya ke Moskow pada awal invasi ke Ukraina.
"Bahkan para pemimpin Eropa pergi ke Rusia, tetapi Pakistan khususnya ditanya 'mengapa Anda pergi' seolah-olah kami adalah pelayan mereka," ungkap khan.
Tanpa membuang waktu, Washington segera menanggapi pernyataan Khan. Jubir Kemlu AS Ned Price mengklarifikasi, pihaknya menyimak situasi politik di Pakistan, Namun, Price menegaskan, mereka menghormati proses yang dijalani pemerintahan Khan.
"Kami mengikuti perkembangan di Pakistan. Kami menghormati (dan) kami mendukung proses konstitusional Pakistan dan supremasi hukum," jelas Price.
