PM Selandia Baru Terpaksa Terbang ke Melbourne Pakai Pesawat Komersil

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perdana Menteri baru Selandia Baru Christopher Luxon. Foto: Marty Melville/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Perdana Menteri baru Selandia Baru Christopher Luxon. Foto: Marty Melville/AFP

Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon terpaksa terbang dengan penerbangan komersial untuk menghadiri KTT Khusus ASEAN-Australia di Melbourne, Selasa (5/3).

Dikutip dari Reuters, PM Luxon harus terbang dengan penerbangan komersial karena masalah teknis menimpa pesawat militer yang seharusnya dipakai untuk berangkat ke Australia.

Media lokal melaporkan, penundaan penerbangan itu dapat berdampak pada agendanya di Melbourne.

Seharusnya, pesawat yang membawa Luxon lepas landas dari ibu kota Wellington pada Selasa pagi. Namun, kata juru bicara Angkatan Pertahanan Selandia Baru, saat pemeriksaan pra-penerbangan ditemukan kesalahan teknis pada sistem roda pendaratan pesawat.

Juru bicara kantor Luxon mengkonfirmasi Luxon harus melanjutkan penerbangan dengan pesawat komersil menuju Melbourne. Luxon bertemu dengan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah setelah sampai di Melbourne, meski media Selandia Baru melaporkan Luxon mungkin melewatkan pertemuan dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr dan PM Laos Sonexay Siphandone.

Sebetulnya, Selandia Baru bukanlah anggota ASEAN-Australia. Luxon hadir atas undangan PM Australia Anthony Albanese.

Pesawat Militer yang Digunakan Perdana Menteri Sudah Bermasalah

Pasukan pertahanan Selandia Baru menggunakan 2 Boeing 757-200 yang diterima pada 2003 sebagai kendaraan pemimpin negara. Pesawat tersebut sudah tidak bisa diandalkan dalam beberapa tahun terakhir karena masalah pemeliharaan yang membuat para pemimpin terdampar di luar negeri atau menunda perjalanan resmi dalam beberapa kesempatan.

Mantan perdana menteri Jacinda Ardern pada 2019 terpaksa kembali ke Selandia Baru dari Australia menggunakan penerbangan komersil. Pesawat militer yang seharusnya membawanya mogok di Washington pada 2022, sementara dia juga harus menginap satu malam lagi di stasiun penelitian Selandia Baru di Antartika karena masalah mekanis pesawat.

Angkatan Udara Selandia Baru sudah diminta untuk mempertimbangkan opsi cadangan untuk memulangkan perdana menteri pada Rabu ketika para insinyur berusaha memperbaiki hambatan teknis. Pesawat Boeing kedua sedang dalam pemeliharaan terjadwal dan karenanya tidak tersedia.