PMI Asal Bali Minta Pertolongan: Dilecehkan hingga Sakit Paru di Turki

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Kota Istanbul, Turki. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kota Istanbul, Turki. Foto: Shutter Stock

Cerita duka dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang merantau ke luar negeri kerap membuat hati teriris. Mereka rentan dieksploitasi oleh perusahaan tempat mereka mencari nafkah.

Dugaan eksploitasi ini dirasakan oleh PMI asal Bali bernama Gusti Ayu Vira Wijayantri. Selama satu tahun tiga bulan berprofesi sebagai terapis di Turki, perempuan berusia 23 tahun itu bekerja tanpa istirahat hingga mengidap sakit perut akut dan paru-paru.

Gaji yang tidak sesuai kontrak kerja di Turki membuatnya tak mampu mengongkosi biaya hidup, berobat ke rumah sakit dan ke Tanah Air. Ia bersurat kepada Pemerintah Indonesia dan Provinsi Bali berharap bisa dipulangkan.

"Untuk yang baru keliatan di paru paru saya ada virus kak, kalau di bagian perut emang kebetulan harus berobat lagi untuk mengetahui pastinya kenapa, tapi karena biaya rumah sakit di sini mahal jadi saya belum dapat melakukan pengobatan lagi," katanya saat dihubungi melalui pesan Whatsapp kepada wartawan, Selasa (16/8).

Ilustrasi Kota Istanbul, Turki. Foto: Shutter Stock

Vira menuturkan, rencana merantau ke Turki diinspirasi ibu mantan pacar adiknya yang bernama Agung. Dia diiming-imingi kerja gaji besar untuk membiayai pengobatan almarhum ayahnya yang bertahun-tahun mengidap kanker tulang.

Vira akhirnya belajar teknik spa di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di sebuah Spa School internasional milik Agung di Kota Denpasar Januari 2020 lalu. Selang lima bulan atau Mei 2020, ayahnya mengembuskan napas terakhir.

Vira lalu membatalkan rencana berangkat ke Turki. Rekannya itu berkeras hati agar Vira berangkat demi membayar utang pengobatan ayah. Keluarga Vira tak mau jumlah utang ini menjadi konsumsi publik.

Vira memutuskan berhenti kuliah pada saat semester lima di Universitas Pendidikan Nasional. Ia berangkat ke Turki dengan bantuan temannya pada Mei 2021 lalu.

Vira dijanjikan kerja sebagai terapis spa di sebuah hotel dengan iming-iming gaji Rp 12 juta, delapan jam kerja dan kamar tidur 1-4 orang.

"Saya tergiur dan menandatangani kontrak dan pada saat itu saya berangkat dengan sistem potong gaji," katanya.

Ia masuk ke Turki dengan status PMI yang berangkat secara mandiri tanpa perusahaan penempatan atau agen penyalur tenaga kerja. Vira mengaku membayar Rp 1 juga mengurus Kartu Tanda Kerja Luar Negeri (KTLN) ke temannya itu. Temannya mengurus KTLN itu ke B2PMI Denpasar.

Hidup Vira semakin mencekam begitu menginjakkan kaki ke Turki. Ia bekerja dari pukul 06.00 hingga 21.00 waktu setempat, waktu istirahat hanya 15 menit setiap hari dan gaji Rp 4-7 juta.

"Kantin atau tempat makan sangat jauh, saya harus jalan kaki, terkadang saya hanya dapat makan sehari sekali karena ramai tamu. Kadang saya curi-curi waktu, saya taruh nasi dan lauk di kertas tisu, saya masukan ke kantong, nasi itu saya makan pada saat saya mengambil tamu karena jika tidak demikian maka saya tidak bisa makan seharian,"katanya.

Di sisi lain, Vira juga diteror oleh temannya itu terkait biaya keberangkatannya ke Turki. Temannya itu diperkirakan menggelontorkan uang Rp 15 juta untuk keberangkatan Vira. Temannya justru tak merespons saat Vira menuntut penyelesaian kontrak kerja yang tidak sesuai perjanjian.

Vira memutuskan berhenti dari hotel itu dan melamar pekerjaan jasa spa. Nahas, di tempat itu dia mendapatkan pelecehan dari pelanggan sehingga memutuskan kembali berhenti.

"Saya mencoba mengkomunikasikan kepada manajer tapi manajer tidak menggubris saya dan setelah saya tahu itu adalah tempat spa yang tidak baik saya kabur lagi tanpa mendapatkan gaji karena saya ketakutan,"katanya.

Pada Juni 2022, Vira kembali mendapatkan pekerjaan di sebuah jasa spa. Nahas, pada Minggu (17/7), Vira muntah darah dan tubuhnya ambruk sehingga terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Vira kini dirawat di mess kantornya dan mengandalkan bantuan dari teman-teman seperantauan untuk makan dan pengobatan.

"Pada saat ini kondisi kesehatan saya semakin parah, setiap hari muntah, uang untuk biaya pengobatan sudah tidak ada. Dengan ini saya memohon untuk memulangkan saya ke Bali," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Ida Bagus Ngurah Arda membenarkan Vira diduga sakit karena kelelahan atau dieksploitasi saat bekerja di Turki.

"Kemungkinan seperti itu kalau dilihat dari waktu pertama itu katanya berangkat jam 6 bekerja sampai malam, capek (sementara itu) waktu istirahat 15 menit dan jalan kaki 5 menit (menuju kantin), ada kemungkinan itu penyebabnya," katanya.

Arda mengatakan, telah berkoordinasi dengan KBRI di Ankara, Turki untuk memulangkan Vira. Pihak KBRI sedang memantau kesehatan Vira agar mampu terbang ke Pulau Dewata.

Arda memastikan LPK milik Agung memiliki izin namun sejatinya tidak berwenang memberangkatkan Vira. Menurutnya, Agung hanya membantu mengurus administrasi keberangkatan kerja ke Turki.

"Sebatas membantu urusan administrasi, membantu di BP2MI apa yang harus disiapkan," katanya.

Terpisah, Kepala BP2MI Denpasar Anak Agung Gde Indra Hardiawan membantah adanya uang Rp 1 juta untuk mengurus KTLN. Pengurusan KTLN biasanya gratis. Menurutnya, Vira membayar Rp 1 juta untuk biaya asuransi dan operasional kepada Agung.

"BP2MI dan Dinas tenaga kerja dan ESDM telah melakukan klarifikasi kepada Agung, diterangkan pembayaran tersebut diberikan kepada Agung, diterangkan bahwasanya pembayaran tersebut untuk biaya asuransi dan jasa operasional," katanya.