Polda Jabar: Peserta Jasa Pelatihan Seleksi Polisi Tak Dijamin Lolos Ujian

Seorang ibu rumah tangga di Kota Bandung, Jabar, berinisial RV alias P ditangkap polisi dengan tuduhan melakukan penipuan. Dia menjanjikan peserta di tempat pelatihan seleksi Bintara Polri miliknya bisa lolos jadi polisi.
P membuka tempat pelatihan seleksi Bintara Polri dengan menyewa sebuah tempat. Hal itulah yang membuat korbannya percaya sehingga mengirimkan uang ratusan juta rupiah ke pelaku.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Ibrahim Tompo, mengatakan tempat pelatihan seleksi Bintara Polri yang didirikan oleh seseorang secara resmi atau tidak resmi, tidak menjamin muridnya dapat diterima jadi anggota kepolisian. Tempat pelatihan itu tak terhubung dengan bidang SDM Polri atau panitia seleksi.
"Terkait masalah tempat pelatihan, baik berlisensi maupun tidak berlisensi, itu tidak ada terhubung dengan pihak kepolisian, apalagi dengan SDM apalagi secara spesial dengan panitia," kata Ibrahim di Mapolda Jabar, Bandung, pada Jumat (28/7).
Ibrahim menambahkan, pengawasan dalam setiap tahapan seleksi dilakukan secara berlapis sehingga tak ada yang dapat melakukan kecurangan. Selain itu, kata dia, pengumuman atas hasil seleksi dilakukan dengan mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
"Proses seleksi juga dilakukan dengan betul-betul pengawasannya berlapis baik di internal maupun eksternal dan ada evaluasi untuk setiap tahapan," papar Ibrahim.
Proses seleksi akuntabel dan transparan
Di lokasi yang sama, Karo SDM Polda Jabar, Kombes Harry Haryadi, menjelaskan tahapan dari tes dalam seleksi penerimaan anggota kepolisian. Sebelum tes digelar, kata dia, biasanya akan dilakukan sosialisasi terlebih dahulu lewat media sosial hingga kantor polisi di kewilayahan.
Setelah dilakukan sosialisasi, para calon anggota akan diarahkan untuk melakukan pendaftaran secara online. Dalam situs itu juga dinyatakan bahwa tak ada biaya yang dibebankan kepada tiap pendaftar.
"Ketentuan persyaratan tes sudah tertera dengan jelas dan kita sudah memberikan peringatan bahwa untuk penerimaan anggota Polri tidak memungut biaya sepeser pun," kata dia.
Kemudian, lanjut Harry, tes dilakukan dengan memakai sistem CAT. Hasil dari tes yang digelar akan langsung diumumkan dan dapat disaksikan siapa pun. Lalu, pada tahap pengumuman kelulusan, sidang digelar secara terbuka dan dapat disaksikan melalui media sosial.
"Pada saat pengumuman kelulusan itu pun, sidangnya sidang terbuka, disaksikan semua pihak dan bahkan kita share link via YouTube ataupun platform media sosial lainnya sehingga sangat terbuka dan transparan," kata Harry.
Dengan begitu, seleksi masuk kepolisian dilakukan dengan mengedepankan akuntabilitas dan transparansi. Harry pun meminta masyarakat jangan tergiur apabila ada pihak yang menjanjikan kelulusan.
"Yang bisa meluluskan seorang calon adalah dirinya sendiri, dengan cara belajar dan berlatih. Yang kami perlukan adalah calon terbaik," ujar Harry.
