Polda Jateng Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Akibat Gempa di Salatiga-Semarang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Gempa.  Foto: Indra Fauzi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gempa. Foto: Indra Fauzi/kumparan

Rentetan gempa susulan terjadi di Salatiga, Banyubiru Ambarawa, Semarang dan sekitarnya pada Minggu (24/10). Sebelumnya gempa pertama terjadi pada Sabtu (23/10) berkekuatan 3 magnitudo.

Menyikapi gempa itu, Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol M Iqbal Alqudusy meminta masyarakat tidak panik dan tidak mudah termakan berita hoaks terkait rentetan gempa tersebut.

Masyarakat juga diimbau tidak menciptakan kegaduhan atau menyebar pesan yang belum diketahui kebenarannya terkait gempa.

"Pemerintah sudah mempunyai SOP terkait penanganan gempa dan bencana alam lainnya. Institusi Polri melalui Polres, Polsek dan Bhabinkamtibmas akan melakukan patroli dan pelaporan terkait rentetan gempa dan dampak yang diakibatkannya. Untuk masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada," kata Iqbal dalam keterangannya.

Ilustrasi Gempa. Foto: Indra Fauzi/kumparan

Sementara Kapolsek Banyubiru, Iptu Subhan, mengatakan pihaknya sudah melakukan patroli ke lokasi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat dan pelaku wisata.

Patroli itu untuk memastikan beredarnya rekaman suara berdurasi 25 detik soal adanya laporkan kerusakan di Banyubiru akibat gempa.

"Info dalam rekaman suara itu dipastikan tidak benar. Lagipula di Banyubiru tidak ada Desa Muncul, yang ada Dusun Muncul, Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru," kata Subhan.

Subahan tidak mengetahui siapa pembuat rekaman itu. Namun kejadian ini sempat membuat pelaku wisata mengurungkan niat berwisata ke Rowobon

"Beredar juga rekaman klarifikasi dan permintaan maaf bahwa info korban jiwa dan material itu tidak benar. Namun kami masih melacak pembuatnya siapa," tutur Subhan.

kumparan post embed

Sebelumnya, Kepala Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Daryono, mengatakan seluruh gempa yang terjadi merupakan gempa sangat dangkal dengan kedalaman kurang dari 30 kilometer.

Gempa paling banyak terjadi berada pada kedalaman kurang dari 10 km di mana gempa terdangkal berada pada kedalaman 3 kilometer yang terjadi sebanyak 3 kali.

Daryono menambahkan, gempa swarm dicirikan dengan serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian yang sangat tinggi. Berlangsung dalam waktu “relatif lama” di suatu kawasan, tanpa ada gempa kuat sebagai gempa utama (mainshock)