Polisi Bentuk Tim Khusus Buru Pelaku Curanmor, Termasuk Kasus Ojek Lansia di Sardjito

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kustiyadi menjelaskan 11 bayi yang dievakuasi dari sebuah rumah di Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, adalah bayi hasil hubungan di luar nikah. Foto: Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kustiyadi menjelaskan 11 bayi yang dievakuasi dari sebuah rumah di Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, adalah bayi hasil hubungan di luar nikah. Foto: Panji/kumparan

Satreskrim Polresta Sleman membentuk tim khusus untuk memburu pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Salah satu kasus yang menjadi perhatian ialah pencurian motor milik Setiyadi (63), tukang ojek pangkalan yang menjadi korban di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Mateus Wiwit Kustiyadi mengatakan, pihaknya memprioritaskan penanganan kasus curanmor karena dinilai meresahkan masyarakat.

Polisi juga mendalami modus pelaku yang berpura-pura menjadi penumpang, kemudian meminjam motor korban.

"Curanmor terus kita fokuskan karena itu juga cukup meresahkan masyarakat, termasuk yang modus di Sardjito itu, (pelaku) sebagai penumpang dan kemudian minjam motor," kata Wiwit, Rabu (4/11).

Wiwit mengatakan, pihaknya telah melakukan analisis dan evaluasi (anev) terhadap sejumlah kasus curanmor. Polisi mengelompokkan kasus berdasarkan kesamaan petunjuk dan modus operandi, kemudian membagi tim untuk melakukan penyelidikan bersama jajaran polsek.

"Saya kelompokkan mana yang petunjuknya sama, modusnya sama, saya kelompokkan kemudian saya bagi tim di sini dan melibatkan polsek. Dan ini nanti segera terungkap," katanya.

Menurut Wiwit, terdapat enam polsek penyangga Sleman yang menjadi perhatian karena rawan kasus curanmor. Keenamnya yakni Polsek Depok Barat, Depok Timur, Bulaksumur, Ngaglik, Mlati, dan Gamping.

"Nah, itu enam polsek sebagai penyangga. Memang baru kemarin saya melakukan anev terhadap Resmob ke enam polsek yang opsnalnya untuk meng-anev itu terkait khusus curanmor," ujarnya.

Sementara itu, Kapolresta Sleman AKBP Dhimas Prasetyo memerintahkan jajarannya memetakan titik-titik rawan curanmor. Polisi juga akan memasang spanduk berisi imbauan kepada masyarakat, termasuk informasi mengenai modus-modus pencurian terbaru.

"Perintahkan Kasat Reskrim untuk membuat imbauan itu spanduk dan lain sebagainya di titik-titik tersebut. Jadi minimal warga juga sudah aware. Nanti disertai modus-modusnya. (Modus) penumpang yang pinjam motor itu harus tersampaikan karena ada modus baru seperti ini," kata Dhimas.

Empat Kasus Penipuan di Lingkungan Sardjito

Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr. Sardjito, Banu Hermawan, mengatakan pihaknya mencatat ada empat peristiwa penipuan dengan modus berbeda yang terjadi di lingkungan rumah sakit tersebut.

Kasus-kasus itu meliputi pelaku yang meminjam uang lalu kabur, meminjam ponsel lalu kabur, serta meminta diantar menggunakan ojek pangkalan dengan alasan tertentu. Dua kasus terkait peminjaman motor terjadi di luar dan di sekitar area rumah sakit.

"Jadi (total) ada empat peristiwa itu terdiri dari peminjaman uang lalu kabur, peminjaman HP lalu kabur, dan modus nipu motor ojek pengkolan, dilakukan di luar area RS Sardjito. Yang keempat (kasus Setiyadi) modus sama dengan nomor tiga tapi dilakukan di depan gedung parkir Sardjito," kata Banu saat dihubungi kumparan, Kamis (29/10).

Banu menyebut pelaku menggunakan modus *adol welas* atau berpura-pura meminta belas kasihan dengan mengaku istrinya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Namun, setelah ditelusuri, tidak ditemukan anggota keluarga pelaku yang menjadi pasien di sana.

"Adol welas. Ternyata setelah kita lacak tidak ada keluarga pasien ini. (Lokasi RSUP Dr Sardjito) cuma sebagai modus aja posisinya," ujarnya.

Banu menegaskan, RSUP Dr. Sardjito tidak terlibat dalam rangkaian kasus penipuan tersebut. Ia mengimbau masyarakat agar tetap peduli terhadap sesama, tetapi waspada terhadap permintaan bantuan dari orang yang belum dikenal.

"Jangan mudah percaya terhadap permintaan pinjaman uang, kendaraan, atau barang berharga dari orang yang belum dikenal, terlebih jika disertai janji imbalan yang tidak wajar," katanya.

Menurut Banu, sebagian besar korban merupakan lanjut usia (lansia). Pelaku diduga memanfaatkan kondisi korban, termasuk keterbatasan dalam menggunakan teknologi, serta menawarkan imbalan yang lebih besar dari ongkos sebenarnya.

"Ojek pangkalan itu kan lansia, nggak punya hape malahan. Terus kedua diiming-imingi dibayar tiga kali lipat. Jadi ngantar ke Sardjito berapa Rp 30 ribu nanti akan dibayar Rp 100 ribu," ujarnya.

Banu mengatakan, pihak rumah sakit telah berkoordinasi dengan kepolisian terkait rangkaian kasus penipuan tersebut.

Sebelumnya, Setiyadi (63), seorang tukang ojek pangkalan, diduga menjadi korban pencurian sepeda motor di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, pada Selasa (27/10). Peristiwa itu bermula saat Setiyadi mengantarkan seorang penumpang laki-laki dari Tempel, Sleman, menuju rumah sakit sekitar pukul 14.00 WIB.

Setibanya di area parkir rumah sakit sekitar pukul 15.20 WIB, penumpang tersebut meminta Setiyadi menunggu di masjid. Ia mengaku hendak menjenguk istrinya yang dirawat di lantai 5.

Sekitar pukul 15.45 WIB, penumpang itu kembali dan meminjam sepeda motor Setiyadi dengan alasan hendak membeli jus jambu. Tanpa curiga, Setiyadi menyerahkan kunci motornya. Namun, penumpang tersebut tidak kunjung kembali.

Akibat kejadian itu, Setiyadi kehilangan sepeda motor Honda Supra X 125 bernomor polisi AB 5083 FZ. Pihak keluarga telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Mlati.