Polisi Malaysia Selamatkan 400 Anak Korban Pelecehan di Panti Asuhan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pelecehan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelecehan. Foto: Shutter Stock

Aparat keamanan Malaysia menyelamatkan lebih dari 400 anak yang menjadi korban kekerasan di panti asuhan, pada Rabu (11/9). Tempat itu dikelola organisasi bisnis berbasis Islam di Negeri Jiran.

Pejabat kepolisian Malaysia, Inspektur Jenderal Razarudin Husain mengatakan dalam operasi penggerebekan itu mereka menangkap 171 pria dewasa, termasuk ustaz. Penggerebekan dilakukan di 20 tempat yang berada di dua negara bagian.

Razarudin menjelaskan, mereka yang diselamatkan terdiri dari 201 bocah laki-laki dan 201 anak perempuan. Anak-anak itu berusia satu sampai 17 tahun.

Dia menambahkan, penggerebekan berujung penangkapan dilakukan setelah adanya laporan masyarakat terkait dugaan pelecehan seksual terhadap anak-anak di puluhan panti asuhan.

"Semua panti asuhan itu dikelola Global Ikhwan Services and Business (GISB)," ucap Razarudin seperti dikutip dari Reuters.

Merespons penangkapan, GISB membantah terlibat dalam pelecehan seksual terhadap ratusan anak. Mereka juga membantah mengelola puluhan panti asuhan yang digerebek.

"Bukan kebijakan kami merencanakan dan melaksanakan tindakan yang berlawanan dengan hukum Islam dan hukum nasional," kata GISB.

GISB menegaskan, mereka menuntut penyelidikan menyeluruh perihal kasus yang menyeret namanya tersebut.

GISB diketahui terlibat bisnis di berbagai sektor mulai dari supermarket sampai laundry. Selain di Malaysia GISB beroperasi di Indonesia, Singapura, Mesir, Arab Saudi, Prancis, Australia, dan Thailand.

Pegawai GISB

Dalam konferensi pers pada Rabu kemarin, Razarudin menjelaskan dari hasil investigasi awal, anak yang sudah diselamatkan seluruhnya anak karyawan GISB Malaysia. Seluruhnya dibawa ke panti asuhan setelah mereka lahir. Di tempat itu mereka diduga jadi korban pelecehan.

Bentuk pelecehan, ucap Razarudin, termasuk sodomi oleh wali dewasa. Kemudian mereka diduga diajari menyodomi anak-anak lainnya di panti itu.

GISB sendiri dikaitkan dengan kelompok Al-Arqam yang sudah dilarang di Malaysia sejak 1994. GISB pernah mengakui hubungan dengan Al-Arqam namun kini mereka menggambarkan diri sebagai pengusaha yang berdasarkan ajaran Islam.