Polisi: Pemilik Tambang Gunung Kuda Abaikan Larangan Gali-Teguran Pemprov Jabar

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi pers longsor galian C di Mapolres Cirebon, Jawa Barat, Minggu (1/6/2025). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers longsor galian C di Mapolres Cirebon, Jawa Barat, Minggu (1/6/2025). Foto: kumparan

Kepolisian Resor Kota (Polresta) Cirebon mengatakan dua orang tersangka dalam kasus longsor tambang Galian C di Gunung Kuda, Kabupaten Cirebon, mengetahui adanya larangan penggalian. Tapi keduanya tetap nekat dan terus menggali.

Ini pula yang jadi dasar polisi menetapkan dua orang jadi tersangka dalam kejadian ini.

“Tersangka AK (kepala koperasi) mengetahui adanya surat larangan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan tanpa persetujuan RKAB, tetapi yang bersangkutan tidak mengindahkannya,” kata Kombes Pol Sumarni dalam konferensi pers.

Sumarni menjelaskan, AK tetap memerintahkan AR selaku Kepala Teknik Tambang untuk melanjutkan operasional tambang meskipun sudah menerima dua surat larangan dan satu surat peringatan dari Kantor Cabang Dinas ESDM Wilayah VII Cirebon.

“Tersangka AR sesuai dengan arahan tersangka AK tetap melaksanakan kegiatan operasional pertambangan dengan tidak mengindahkan keselamatan dan kesehatan kerja atau K3,” ujarnya.

“Akibat dari pelaksanaan kegiatan pertambangan tersebut menyebabkan terjadinya longsor sehingga menimbulkan korban jiwa yang sampai saat ini sudah ditemukan 19 orang,” katanya.

Tersangka longsor galian C dihadirkan saat konpers di Mapolres Cirebon, Jawa Barat, Minggu (1/6/2025). Foto: kumparan

Longsor di tambang batu galian C Gunung Kuda terjadi pada Jumat (30/5). Penyebab longsor berasal dari kesalahan dalam metode penambangan.

Tim gabungan yang terdiri dari polisi, TNI, dan relawan terus melakukan pencarian korban. Tapi, proses evakuasi menghadapi tantangan karena kondisi tanah yang labil dan adanya longsor susulan. Pada Minggu (1/6), satu korban berhasil ditemukan, sementara tujuh lainnya masih dalam pencarian.

Pemerintah daerah kini telah menutup tambang tersebut serta empat tambang lainnya yang dianggap berbahaya. Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya bencana serupa di masa mendatang.