Polisi Turki Tangkap 4 Orang yang Unggah Postingan Provokatif Usai Gempa

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pria berdiri di depan bangunan yang runtuh setelah gempa bumi di Osmaniye, Turki, Senin (6/2/2023). Foto: Dilara Senkaya/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria berdiri di depan bangunan yang runtuh setelah gempa bumi di Osmaniye, Turki, Senin (6/2/2023). Foto: Dilara Senkaya/REUTERS

Kepolisian Turki menahan empat orang yang dianggap telah mengunggah postingan provokatif, sehari usai terjadinya gempa bumi dahsyat 7,8 magnitudo yang menelan hingga lima ribu korban jiwa.

“Keempat orang tersebut ditahan setelah petugas menemukan akun-akun yang membagikan postingan-postingan provokatif yang bertujuan untuk menciptakan rasa takut dan kepanikan,” kata pihak kepolisian.

Pihaknya menambahkan, penyelidikan yang lebih luas terhadap akun-akun di media sosial yang menyebarkan postingan serupa sedang berlangsung.

Namun, tidak ada rincian lebih lanjut mengenai isi atau apa yang menyebabkan postingan tersebut dinilai provokatif.

Dikutip dari AFP, media sosial di Turki saat ini dipenuhi oleh unggahan yang mengeluhkan kurangnya upaya pencarian dan penyelamatan di daerah mereka — terutama para penduduk di Provinsi Hatay.

Gempa terbaru yang mengguncang beberapa provinsi di bagian selatan Turki pada 6 Februari 2023 telah menewaskan sedikitnya 4.800 orang, melukai belasan ribu lainnya, serta meruntuhkan puluhan gedung dan bangunan.

Banyak penduduk yang tidak lagi memiliki tempat tinggal dan kini mereka harus bertahan di shelter-shelter setempat untuk sementara waktu — bertahan di tengah cuaca dingin dan musim salju.

Bersamaan dengan itu, polisi tampaknya menanggapi klaim-klaim yang tersebar di media sosial serta mulai menemukan dan menangkap para pengguna yang dinilai telah menyebarkan ketakutan.

“Informasi alamat dan lokasi warga yang mencari bantuan segera dipastikan dan koordinasi dilakukan,” ujar pihak kepolisian.

Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas Turki telah menindak berbagai postingan yang beredar di media sosial — terutama yang dianggap mendukung terorisme.

Namun, hal ini menimbulkan tuduhan baru bahwa pemerintah di Ankara telah membatasi kebebasan berekspresi.