Polri Ajukan Atpol Baru di 5 Negara: Papua Nugini, China, hingga Kamboja

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komisi III DPR RI rapat kerja bersama Kadiv Hubinter Polri, Irjen Amur Chandra dan Direktur PPA PPO Polri, Brigjen Nurul Azizah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Senin (22/9/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Komisi III DPR RI rapat kerja bersama Kadiv Hubinter Polri, Irjen Amur Chandra dan Direktur PPA PPO Polri, Brigjen Nurul Azizah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Senin (22/9/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Kadiv Hubinter Polri, Irjen Amur Chandra menyebut telah mengajukan 5 Atase Kepolisian (Atpol) baru di 5 negara, yaitu di Papua Nugini, Myanmar, Kamboja, China, dan Jeddah, Arab Saudi.

Hal ini ia sampaikan saat rapat bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Senin (22/9). Ada sejumlah alasan Polri negara-negara itu dipilih, seperti memonitor gerakan separatis hingga mengawasi scam.

“Kami minta untuk di wilayah Papua Nugini, Pak, dibukakan Atase Kepolisian yang baru dengan tujuan untuk cover terhadap gerakan-gerakan separatis yang berlari ke sana. Kemudian kita minta di Myanmar, Myanmar khususnya banyak sekali warga negara kita yang terlibat dalam scam di sana, berikut juga di Kamboja, kami minta untuk dibukakan Atpol yang baru,” ucap Amur.

“Yang terakhir adalah di China dengan di Jeddah, Pak,” tambahnya.

Amur menyebut, permintaan ini sudah diajukan ke Kementerian Luar Negeri dan sudah dalam proses.

“Kami sudah mengajukan 5 untuk pembukaan Atpol baru, yang sudah dikomunikasikan dengan Wamenlu pada saat itu, dengan pejabat yang lama, dan sementara sudah di-approve, tapi masih berproses hingga saat ini,” ucap Amur.

“Ini semua memang bertujuan adalah untuk perlindungan warga negara dan sistem komunikasi yang cepat antara Interpol dengan Interpol maupun Police to Police,” tambahnya.

Menurut Amur, selama ini, atase kepolisian Indonesia kerap menemui banyak kendala. Salah satunya adalah kekurangan tenaga kerja.

“Terkait dengan Atpol, memang ini suatu keniscayaan bagi kami, Pak. Kami ingin sekali bertindak cepat terhadap penanganan transnational crime, tapi kami memang kekurangan kaki tangan di wilayah,” ucap Amur.

Amur menjelaskan, atase kepolisian di Indonesia kebanyakan hanya bertugas sendiri dengan lingkup wilayah yang terlalu besar.

“Di Amerika, contohnya Brigjen Okta, ini mantan atase di Washington DC, Pak, dia bertugas meng-cover satu benua, Pak. Satu benua Amerika dia cover. Jadi kalau ada kejadian misalnya di Brasil, di Uruguay, dia ditugaskan itu uang sakunya dan uang TPLN-nya terpakai, Pak. Habis dia. Satu kali penugasan saja,” ucap Amur.

“Sebagai contoh juga, Pak, di Australia kami hanya punya satu atase kepolisian itu dijabat oleh Brigjen Tommy, itu meng-cover satu benua Australia. Sementara perbandingan, kepolisian Federal Australia menempatkan kurang lebih ada 15 kepolisian yang ada di Indonesia,” tambahnya.