Polri Perkuat Penanganan Karhutla, Libatkan Teknologi hingga Rekayasa Tata Air

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo tinjau penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah.  Foto: Dok. Polri
zoom-in-whitePerbesar
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo tinjau penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. Foto: Dok. Polri

Polri memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin kompleks dengan menggabungkan kekuatan personel, teknologi, kendaraan khusus, peralatan pemadaman, perlindungan personel, hingga rekayasa tata air di lahan gambut.

Penguatan tersebut terlihat saat Wakapolri Komjen Pol Prof. Dr. Dedi Prasetyo meninjau langsung Posko Induk Penanganan Karhutla Polda Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Jumat (11/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Wakapolri tidak hanya mengecek kesiapan personel, tetapi juga memeriksa berbagai sarana dan inovasi yang digunakan untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses serta mempercepat proses pemadaman.

Kekuatan di lapangan antara lain diperkuat 12 kendaraan double cabin yang dilengkapi tangki dan peralatan karhutla, kendaraan AWC, mobil pemadam kebakaran dan tactical karhutla, satu kendaraan Komodo, 14 sepeda motor modifikasi, serta satu ATV untuk mendukung mobilitas personel di medan sulit.

Pemantauan juga diperkuat dengan drone thermal yang dapat mendeteksi sumber panas, terutama ketika titik api sulit terlihat secara kasatmata akibat asap atau kondisi medan.

Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo tinjau penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. Foto: Dok. Polri

Untuk mendukung proses pemadaman, disiapkan tiga unit pompa Alkon 3 inci, 75 unit Alkon 2 inci, dan 30 unit Alkon portable 1,5 inci. Peralatan tersebut dilengkapi berbagai jenis selang, yakni 50 roll selang spiral 3 inci, 100 roll spiral 2 inci, 100 roll spiral 1,5 inci, 100 roll canvas 2 inci, dan 100 roll canvas 1,5 inci.

Polri juga menyiapkan 150 konektor selang/nozzle, 100 hose adapter, 20 tool box kit, 100 fire beater, serta 20 folding water tank.

Perkuat Perlindungan Personel

Keselamatan personel turut menjadi perhatian dalam menghadapi kondisi ekstrem di lapangan. Dukungan perlengkapan meliputi 40 pakaian anti-panas, 50 pasang sepatu anti-panas, 50 pasang sarung tangan anti-panas, 200 pasang boots, 63 tabung oksigen 6,7 kilogram, 187 tabung oksigen 2 kilogram, 25 set masker dan tabung oksigen, 400 masker asap, 50 senter jarak jauh, serta 150 headlamp.

Polri juga menyiapkan 4.000 liter cairan X-Fire dari Slog Polri, tiga generator berkapasitas 5.000 watt, 50 backpack, serta dua unit Wontech untuk mendukung kebutuhan operasional di lapangan.

Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo tinjau penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. Foto: Dok. Polri

Namun, penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan pemadaman. Kebakaran di lahan gambut membutuhkan strategi yang menyentuh sumber persoalan, terutama pengelolaan tata air.

Kondisi muka air gambut yang ideal berada sekitar 40 sentimeter. Sementara itu, di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, muka air gambut dapat mencapai sekitar 120 sentimeter.

Karena itu, strategi mitigasi dilakukan melalui penyekatan kanal, pengisian kembali air, pembangunan sumur bor dan embung, serta pembukaan akses agar wilayah rawan dapat ditangani lebih cepat.

Saat ini, terdapat 220 sumur bor dan 104 embung air yang menjadi bagian dari infrastruktur mitigasi karhutla.

Kalteng Hadapi Ancaman Kebakaran Tinggi

Strategi tersebut dinilai penting karena Kalimantan Tengah menghadapi ancaman kebakaran yang tinggi. Data terbaru menunjukkan terdapat 107.309 hotspot, 2.819 firespot, dan 9.228,04 hektare lahan terbakar. Konsentrasi kebakaran tertinggi berada di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian. AQI Palangka Raya tercatat mencapai 3.242 atau masuk kategori "Sangat Berbahaya". Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla harus dilakukan secara cepat, sekaligus memastikan keselamatan personel dan masyarakat dari dampak asap.

Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo tinjau penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. Foto: Dok. Polri

Di tengah fenomena El Nino yang sangat kuat pada Agustus-September 2026, Polri mengubah pendekatan penanganan karhutla dari sekadar respons setelah api muncul menjadi strategi yang lebih menyeluruh.

Pendekatan tersebut mencakup deteksi dini, pencegahan, pemadaman cepat, mitigasi gambut, pemanfaatan teknologi, edukasi masyarakat, kolaborasi, hingga penegakan hukum. Penguatan berbagai aspek tersebut menjadi bagian dari arahan Wakapolri dalam penanganan karhutla.

Libatkan SDM dan Peserta Didik

Penguatan teknologi dan peralatan juga berjalan beriringan dengan peningkatan sumber daya manusia. Di Kalimantan Tengah terdapat 59 Serdik, yang terdiri atas 40 Sespimmen, 12 Sespimti, dan 7 SPPK.

Mereka mendukung kegiatan edukasi, penyuluhan, pendampingan, serta memberikan masukan berdasarkan kondisi di lapangan.

Dalam skala yang lebih luas, sebanyak 322 personel yang terdiri atas 64 Sespimti, 207 Sespimmen, 29 SPPK, dan 22 pendamping ditugaskan untuk memperkuat edukasi, penyuluhan, dan pencegahan karhutla di enam Polda.

Sementara itu, kelompok 198 personel peserta didik merupakan kelompok penugasan yang berbeda. Jumlah tersebut tidak digabungkan dengan 322 personel maupun 59 Serdik yang berada di Kalimantan Tengah.

Bagi Polri, teknologi dan peralatan hanya menjadi salah satu bagian dari solusi. Efektivitas penanganan karhutla ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan data, personel, teknologi, kondisi ekologi, masyarakat, dan koordinasi lintas sektor dalam satu strategi hingga tingkat tapak.

Dengan pendekatan tersebut, Polri bersama TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, dan masyarakat terus memperkuat upaya agar setiap titik api dapat dideteksi lebih cepat, ditangani lebih dini, dan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

"Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama," tegas Wakapolri.