Polusi Disorot Saat Laga AC Milan vs Chelsea, Pramono Siapkan Hujan Buatan

Kondisi polusi udara Jakarta menjadi sorotan saat laga pramusim Indonesia Super Cup 2026 antara AC Milan kontra Chelsea di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (8/8).
Langit Jakarta yang tampak keabu-abuan selama pertandingan turut menjadi perhatian. Hal serupa juga terlihat dalam unggahan di akun resmi kedua klub.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan kondisi tersebut salah satunya berkaitan dengan kemarau panjang yang membuat Jakarta dan sekitarnya sudah cukup lama tidak diguyur hujan.
“Walaupun kemarin ketika Chelsea lawan AC Milan salah satu keluhan adalah masalah (polusi) apa ya, karena terlalu lama tidak pernah hujan,” kata Pramono usai menghadiri Jakarta Asset Forum & Expo (JAFEX) 2026 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (11/8).
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pramono mengatakan, Pemprov DKI Jakarta tengah menyiapkan opsi hujan buatan. Namun, pelaksanaannya masih menunggu kondisi awan yang memungkinkan.
“Kami sedang menyiapkan hujan buatan, mudah-mudahan awannya ada, begitu awannya ada kami segera membuat hujan buatan untuk Jakarta dan sekitarnya,” ujarnya.
AHY: Kendaraan Pribadi Harus Bergeser ke Transportasi Publik
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) turut menyoroti persoalan polusi udara Jakarta.
Pada agenda yang sama, AHY mengatakan pemerintah perlu terus mencari solusi untuk mengurangi polusi yang berasal dari aktivitas transportasi. Salah satu caranya dengan mendorong peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
Menurut AHY, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan juga tengah menyusun roadmap dekarbonisasi sektor transportasi sebagai bagian dari upaya mencapai target net zero emission 2060.
“Ini salah satu upaya strategis untuk mengurangi emisi karbon kita menuju net zero emission 2060, tapi yang paling dirasakan hari ini sederhananya adalah bagaimana mengurangi polusi,” kata AHY.
AHY menilai penggunaan transportasi publik seperti Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan sehingga berdampak pada penurunan emisi dan polusi udara.
“Mudah-mudahan dengan konversi ke public transport, itulah mengapa saya mengapresiasi Transjakarta, kemudian juga MRT, LRT, yang ini semua akan menggeser penggunaan transportasi privat, transportasi kendaraan-kendaraan pribadi menuju kendaraan-kendaraan publik dan ini akan sangat signifikan mengurangi polusi dan dampak kesehatan,” ujarnya.
AHY juga mengaitkan persoalan polusi dengan aktivitas masyarakat sehari-hari. Sebagai sesama pelari dengan Pramono, ia mengaku dapat merasakan langsung ketika kualitas udara sedang buruk.
“Pak Pramono kan seorang pelari, kebetulan saya juga suka lari, jadi terasa kalau memang polusinya kurang baik itu akan berpengaruh pada pernapasan dan juga kenyamanan kita berkegiatan,” kata AHY.
Menurutnya, peningkatan konektivitas dan kualitas transportasi publik menjadi bagian penting agar warga Jakarta tidak lagi bergantung pada kendaraan pribadi, sekaligus membuat mobilitas warga lebih nyaman dan sehat.
