Ponpes di Jombang Bantah 3 Santri Kabur Tak Tahan Dibully: Punya Utang Layangan
ยทwaktu baca 3 menit

Pihak pondok pesantren di Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, membantah tiga santrinya kabur karena tak tahan menjadi korban bullying temannya.
Ketua Pengurus Pondok, Sulton Haikal, mengatakan mereka kabur dari pondok karena punya utang dengan teman sekolahnya pada Selasa (22/7).
Ketiga santri berinisial AF (12 tahun), AH (10 tahun) asal Kecamatan Wonosalam, Jombang; dan AM (12 tahun) asal Sooko, Kabupaten Mojokerto. Mereka duduk di Sekolah Dasar (SD), namun sekolahnya berada di luar pondok.
"Jadi, tiga santri tersebut itu sekolah di luar pondok. Yang satu kelas 3 dan kelas 4. Nah, masalahnya itu karena salah satu dari santri tadi itu punya masalah utang piutang dengan teman yang ada di sekolahnya. Lebih tepatnya itu utang layangan Rp 45 ribu utangnya itu," kata Sulton, Jumat (25/7).
Salah satu dari tiga santri yang memiliki utang tersebut tidak bisa melunasi dengan tenggang waktu yang ditentukan. Sehingga, ia mengajak dua teman lainnya untuk kabur dari pondok dengan membawa pakaian mereka.
"Akhirnya, si yang bersangkutan tadi itu memutuskan untuk pulang karena takut di tagih utang. Nah, utangnya itu di teman sekelasnya," ucapnya.
"Jadi berita yang ada di media-media itu menurut saya itu kurang tepat. Mungkin karena namanya anak kecil. Jadi karena dia itu takut lah karena dia itu mencari kebenaran lah biar dianggap benar. Akhirnya mencari-mencari pembenaran. Akhirnya dia bicara seperti itu (dibully)," lanjutnya.
Tiga santri itu ditemukan warga sedang berada di dekat kantor Damkar Mojoagung dan akhirnya dilaporlan ke kantor Damkar. Petugas lalu memulangkan ketiganya kembali ke pondok pesantren.
Setelah tiga santri itu diantar kembali ke pondok, mereka langsung ditagih oleh teman SD-nya.
"Utangnya alhamdulilah sudah saya lunasi. Jadi pas dia si santri tadi itu pulang, nah itu si yang nagih utang itu datang. Datang menemui pengurus. 'Anak ini punya utang masih ke saya'. Itu teman sekelasnya. Datang langsung anak lima nagih utang," terangnya.
Sulton mengaku sempat kaget ketiga santri itu kembali ke pondok diantar oleh petugas damkar. Ia juga tidak mengetahui bahwa santrinya itu memiliki masalah utang.
"Nggak bilang (punya utang), saya juga kaget kok. Kok di Damkar, saya ditelepon, kaget saya," ungkapnya.
Saat ini, ketiga santri tersebut telah beraktivitas kembali di lingkungan pondok. Sulton juga menyampaikan bahwa selama ini tidak ada peristiwa bullying di lingkungan pondok.
"Masih ada di pondok (tiga santri tersebut). Masih ada dan masih bisa sepak bola seperti biasanya. Kembali belajar lagi," ujarnya.
"Kalau masalah bullying itu di pondok kami itu hampir tidak ada. Enggak ada sebenarnya bullying itu," tambahnya.
Sebelumnya, tiga santri Ponpes di Kecamatan Sumobito berinisial AF (12 tahun) dan AH (10 tahun) asal Kecamatan Wonosalam, Jombang; dan AM (12 tahun) asal Sooko, Kabupaten Mojokerto, nekat kabur pada Selasa (22/7).
Mereka keluar dari pondok sambil membawa ransel berisi pakaian. Kemudian, mereka memesan becak menuju Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kecamatan Mojoagung, Jombang, untuk bersembunyi.
Warga sekitar RTH Mojoagung merasa curiga dengan tiga santri itu lalu melapor ke Pos Damkar Mojoagung.
"Kita mendapat laporan dari warga tentang adanya anak yang kabur dari pondok sekitar pukul enam pagi. Mereka kabur karena dibully oleh kakak kelasnya," kata petugas Damkar Mojoagung, Riza Maulana.
Petugas lalu membawa tiga santri itu ke pos. Di sana, mereka menceritakan alasannya nekat kabur dari pondoknya karena jadi korban bullying.
