Populasi Jepang Anjlok karena Para Pria Tidak Punya Pekerjaan Tetap

kumparanNEWSverified-green

clock
Ilustrasi para pencari kerja di Jepang (Foto: Reuters/Yuya Shino)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi para pencari kerja di Jepang (Foto: Reuters/Yuya Shino)

Jepang terancam mengalami krisis demografi karena menurunnya tingkat kelahiran dan meningkatnya warga usia tua. Riset terbaru menunjukkan anjloknya tingkat kelahiran terjadi karena hasrat seksual pria yang menurun lantaran kondisi perekonomian mereka yang buruk.

Tahun lalu hanya satu juta anak yang lahir di Jepang, jumlah terendah dalam seabad terakhir. Sementara jumlah populasi menurun hingga 300 ribu orang. Meningkatnya usia tua dan menurunnya angka kelahiran akan membuat Jepang menjadi negara yang tidak produktif.

Menurunnya angka kelahiran terjadi karena keengganan pria di Jepang menikah atau berhubungan seks. Jika terus begini, populasi Jepang diprediksi hanya tinggal 40 juta orang pada 2065, dari yang sekarang berjumlah 127 juta.

Riset terbaru yang dikutip The Independent pekan ini menunjukkan penurunan hasrat seksual terjadi lantaran pria di Jepang sulit mapan karena tidak memiliki pekerjaan tetap. Hal ini membuat para pria Jepang minder dan malas menikah.

Pasalnya setelah menikah wanita Jepang biasanya akan keluar dari pekerjaan mereka dan mata pencaharian dilakukan oleh suami. Anggapan ini membuat para pria Jepang merasa harus punya pekerjaan tetap dulu sebelum menikah.

Para pegawai di Jepang (Foto: Reuters/Thomas Peter)
zoom-in-whitePerbesar
Para pegawai di Jepang (Foto: Reuters/Thomas Peter)

Teori ini juga berlaku di negara-negara yang mengalami krisis demografi, seperti Amerika Serikat, Denmark, Singapura, dan China, namun Jepang lebih parah.

"Masalah gender ini konsisten dengan tren di seluruh dunia, pria mengalami masa yang sulit," kata Anne Allison, profesor antropologi budaya di Duke University di North Carolina.

"Angka kelahiran turun, bahkan angka pacaran juga turun. Dan masyarakat mengatakan alasan nomor satu adalah keamanan ekonomi," ujar penyunting hasil riset berjudul "Japan: The Precarious Future" ini.

Walau angka pengangguran di Jepang di bawah 3 persen, namun tingkat kemapanan pria negara itu yang jadi masalah. Tradisi sejak lama di Jepang, seorang pria bekerja tetap di sebuah perusahaan selama puluhan tahun. Kini, generasi mudanya memiliki jenis karier yang berbeda bekerja berpindah-pindah atau serabutan.

Menurut Jeff Kingston, profesor di Temple University, Japan Campus, Tokyo, sekitar 40 persen pekerja di Jepang adalah pekerja tidak tetap yang bergaji rendah. Hanya 20 persen dari pria di Jepang yang punya pekerjaan yang mapan.

Profesor Ryosuke Nishida dari Tokyo Institute of Technology mengatakan hanya 30 persen dari pemuda pekerja serabutan yang menikah di awal usia 30-an, sisanya menunggu hingga mapan, atau tidak menikah sama sekali. Di sisi lain, ada 56 persen pria dengan pekerjaan tetap berusia awal 30-an yang telah menikah.

"Ada anggapan di Jepang bahwa pria harus memiliki pekerjaan tetap. Jika Anda lulus kuliah dan tidak jadi pekerja tetap, masyarakat melihat Anda sebagai orang gagal," kata Nishida.