Populasi Meledak, Peneliti Ungkap Sifat Invasif Ikan Sapu-Sapu di Sungai Jakarta

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga yang berjalan di trotoar  melihat sejumlah ikan sapu-sapu yang berkembang biak di sungai di samping Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warga yang berjalan di trotoar melihat sejumlah ikan sapu-sapu yang berkembang biak di sungai di samping Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Maraknya kemunculan ikan sapu-sapu di sejumlah sungai di Jakarta belakangan ini menimbulkan kekhawatiran. Populasinya yang terus meningkat diduga berkaitan dengan kemampuan adaptasi tinggi serta minimnya pengendalian yang konsisten.

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyanto, mengungkap ikan sapu-sapu merupakan spesies asing invasif yang memiliki kemampuan berkembang pesat dan beradaptasi di berbagai kondisi lingkungan, termasuk perairan tercemar seperti di beberapa sungai Jakarta.

“Ikan sapu-sapu tergolong ikan asing invasif, karena ikan ini bukan ikan asli dari perairan di Indonesia, termasuk di Sungai Ciliwung,” ujarnya saat dihubungi kumparan, Selasa (31/3).

Sejumlah ikan sapu-sapu terlihat berada di sungai di samping Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ia menjelaskan, karakteristik biologis ikan ini membuatnya mampu berkembang dengan sangat cepat. Tingkat reproduksinya tinggi dengan jumlah telur yang banyak dalam satu siklus hidup.

“Ikan sapu sapu memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat, jumlah telurnya banyak (fekunditasnya tinggi), siklus hidupnya mencapai dewasa cukup cepat dan dapat bereproduksi sepanjang tahun,” jelasnya.

Selain itu, kata Triyanto, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang luas terhadap berbagai kondisi lingkungan, termasuk perairan dengan kualitas rendah.

Warga menunjukkan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) hasil tangkapannya di sepanjang Sungai Ciliwung kecil, kawasan Pasar Baru, Jakarta, Kamis (29/9/2022). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Di Sungai Ciliwung, misalnya, populasi ikan sapu-sapu meningkat sekitar 24 kali lipat dalam 14 tahun terakhir. Dari yang awalnya hanya 12 ekor pada penelitian 2011 menjadi 287 ekor pada penelitian terbaru 2023–2024.

Temuan ini dapat dilihat dalam artikel berjudul "Reinvetarisasi dan Analisis Laju Peningkatan Diversitas Ikan di Sungai Ciliwung" yang dipublikasikan di Jurnal Berita Biologi Vol. 24 No. 2 (2025). Penelitian yang dilakukan Iqbal Mujadid dkk itu dipublikasikan pada 19 Agustus 2025.

Penelitian Mujadid dkk itu dilakukan di 18 stasiun pantauan Sungai Ciliwung yang membentang sepanjang Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan DKI Jakarta. Total panjang aliran Sungai Ciliwung yang diteliti adalah 9 km dari 120 km.

Ikan sapu-sapu terlihat di sepanjang aliran sungai depan Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

“Ikan sapu sapu memiliki adaptasi luas, tahan terhadap variasi lingkungan dengan kondisi yang kualitasnya rendah (oksigen rendah, dan perairan tercemar yang kaya bahan organik),” lanjut Triyanto.

Kemampuan tersebut membuat ikan ini mudah menyebar dan mendominasi ekosistem perairan, sehingga berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas.

“Penyebarannya cepat dan efektif, serta memiliki dampak negatif (dampak ekologis, ekonomi dan sosial),” tegasnya.