Posisi Prabowo 'Kawan' atau 'Lawan' Jokowi Dinilai Berdampak pada Elektabilitas

Pengamat politik Exposit Strategic Arif Susanto memaparkan pandangannya terkait penyebab elektabilitas Prabowo yang merosot di beberapa survei capres 2024 tahun ini.
Arif menyebut posisi Prabowo saat ini yang tidak konsisten dengan sikapnya berseberangan dengan Jokowi di Pemilu lalu, dinilai membingungkan masyarakat.
Pada dua pemilu berturut-turut di 2014 dan 2019, ia menjadi lawan dari Joko Widodo. Namun ia justru memilih masuk dalam kabinet Jokowi di pemerintahan 2019-2024.
"Paling problematik itu Prabowo. Dua pemilu berturut-turut mempersonifikasi diri sebagai antitesis Jokowi, celakanya pasca-Pemilu Prabowo masuk dalam kabinet," ungkap Arif dalam diskusi virtual PARA Syndicate, Kamis (27/10).
Selain itu, Arif juga mengulang kembali peristiwa Prabowo yang menyebut akan membentuk formasi kabinet yang sama dengan yang dimiliki Jokowi jika ia menang pada Pemilu 2019.
Prabowo dinilai harus menentukan dan konsisten pada keberpihakannya menjelang Pemilu 2024. Terlebih, ia sudah resmi diusung Gerindra untuk menjadi capres 2024.
"Lebih celaka lagi, Prabowo membuat pernyataan berulang-ulang, saya ingat pernyataannya dia ngomong ke Luhut, 'Pak Luhut seandainya saya 2019 menang', kabinet saya enggak akan jauh dari kabinetnya Pak Jokowi sekarang," ujar Arif.
"Itulah kenapa orang sekarang sedang kebingungan siapa Prabowo, dan kalau berlanjut terus menerus di 2024 nanti angka elektabilitasnya mengalami kemerosotan seiring naiknya Ganjar dan Anies, kecuali Prabowo mengubah, dan bukan hal mudah mengubah itu karena dia berada di dalam dan sekaligus di luar (pemerintahan Jokowi)," tandasnya.
