Positivity Rate Corona di DIY Masih 23%, Batas Aman Harus di Bawah 5%

22 Juli 2021 15:35 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X (kiri) dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (kanan). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X (kiri) dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (kanan). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku X (Sultan HB X) rapat secara daring dengan pemerintah pusat terkait penanganan pandemi corona, Kamis (22/7). Dalam rapat tersebut, Pemda DIY diminta untuk menurunkan positivity rate menjadi 5 persen.
ADVERTISEMENT
Positivity rate tak lain adalah perbandingan antara jumlah kasus positif corona dengan jumlah tes yang dilakukan.
"Untuk tracing, yang penting positivity rate (harus) di bawah 5 persen. Selama masih di atas itu ya harus sebanyak mungkin ditracing," kata Sultan ditemui di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (22/7).
Sultan menjelaskan saat ini positivity rate DIY masih di angka 23,32 persen. Artinya masih 4 kali dari standar WHO.
"Positif rate DIY 23,28 persen untuk DIY. Harus di bawah 5 persen. Di WHO ketentuan di bawah 5 persen," katanya.
Sementara itu dari data Pemda DIY, jumlah sampel yang diperiksa sempat mencapai 10 ribu meski kemudian turun menjadi 8 ribuan sampel pada 20 Juli dan 9 ribuan sampel pada 21 Juli.
ADVERTISEMENT
Terkait penurunan sampel ini, Kepala Bagian Humas Biro Humas dan Protokoler Pemda DIY, Ditya Nanaryo Aji menyebut bahwa bahwa target testing harian DIY 7.412. Artinya jumlah itu sudah melampaui target dari pusat.
"Tambahan informasi sesuai dengan inmendagri yang terbaru kaitannya dengan PPKM level 4 Jawa-Bali. Testing DIY harian itu targetnya adalah 7.412," kata Ditya.
"Dan sejak tanggal 13 Juli kalau tidak salah sampai dengan 20 kemarin DIY sudah melampaui testing harian," ujarnya.
Soal positivity rate yang masih tinggi, Ditya menjelaskan hal itu terkait erat dengan transmisi yang terjadi di masyarakat.
"Artinya untuk mengurangi paling cepat adalah dengan pengurangan mobilitas. Ada hal lain yang lebih mudah, yaitu taat prokes, pakai masker, jaga jarak, dan lain-lain. Tapi ini berkaitan dengan perilaku masyarakat. Perlu waktu yang lebih lama karena ini mengubah perilaku," katanya.
ADVERTISEMENT
"Target lainnya adalah percepatan vaksinasi. Saat ini pemerintah terus berupaya melakukan percepatan-percepatan tersebut," ujarnya.
Juru Bicara Pemda DI Yogyakarta untuk Penanganan COVID-19, Berty Murtiningsih menegaskan bahwa seluruh kontak erat bergejala maupun tidak di DIY tetap akan ditracing.
"Semua kontak erat, baik bergejala maupun tidak, bila masuk kriteria KE (kontak erat) maka ditest," kata Berty.
Berty menjelaskan jumlah tes yang turun dari 10 ribu ke 8 ribuan ini dipengaruhi sejumlah faktor salah satunya kontak erat.
"Misal kasusnya banyak, tracing dapat banyak, testing juga naik. Juga bisa jumlah kontak erat yang diperoleh banyak, maka testing juga naik, begitu sebaliknya," katanya.