Potret Siswa SDN di Cianjur, Setahun Belajar di Lapangan karena Kelas Ambruk
·waktu baca 2 menit

Gelak tawa terdengar dari siswa-siswa yang duduk di teras dan lapangan sekolah SDN Padangsari, Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Mereka belajar dan bermain di sana. Sebab kelas yang harusnya menjadi tempat belajar sudah ambruk atapnya sekitar satu tahun lalu.
Sejak saat itu, para siswa belajar lesehan di lapangan beralaskan tikar tanpa ada tenda pelindung.
Kepala SDN Padangsari, Adah Nurhayati, mengatakan proses pembelajaran di lapangan sekolah itu terpaksa dijalani puluhan murid kelas IV, V, dan VI.
Selain tanpa alas meja dan kursi, kata Adah, para siswa juga harus menahan dari terik matahari serta bau pesing dari toilet sekolah.
"Sudah setahun terakhir, murid-murid kelas IV, V, dan VI belajar di lapangan hanya dengan menggunakan alas karpet dan terpal. Tiga ruangan kelas yang sebelumnya dapat digunakan, kondisinya rusak parah. Bagian atap dan plafonnya ambruk. Kondisi bangunan rusak itu diperparah oleh gempa yang terjadi pada 2022 lalu," kata Adah, kepada wartawan, Selasa (23/9).
Adah menyebutkan, puluhan murid itu sempat belajar di tenda darurat. Namun, kondisi tenda pun rusak dan tidak dapat digunakan sebagai ruang kelas sementara.
"Saat ini hanya ada satu bangunan terdiri dari dua lokal dipakai kelas I dan II, sedangkan kelas III mengikuti pembelajaran di ruangan guru dan kepala sekolah," jelasnya.
Adah mengungkapkan, akibat kondisi itu para murid sulit untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik, dan tidak konsentrasi.
"Mereka sering mengeluh pegal, karena harus lesehan, belum lagi bising dari aktivitas sekitar lingkungan sekolah," ucapnya.
Berharap Pemerintah Segera Bangun
Adah berharap pemerintah daerah segera membangun kembali ruangan kelas, agar murid dapat belajar dengan nyaman.
"Informasi terbaru dari Disdikpora Kabupaten Cianjur tiga ruangan kelas tersebut direncanakan segera diperbaiki pada anggaran perubahan 2025. Mudah-mudahan saja, segera terealisasikan, karena kasihan para murid sudah terlalu lama belajar di luar ruangan," ujarnya.
Sementara itu, murid kelas IV Putri Kaisa Lestari mengaku, kesulitan untuk memahami materi pelajaran yang disampaikan gurunya saat jam pembelajaran.
"Belajar mulai dari jam 08.00 pagi sampai jam 12.00 siang. Kalau pagi-pagi masih segar, karena ada pohon. Tapi kalau sudah siang panas, jadi nggak fokus pas belajar," pungkas Putri.
