Potret Warga Pesisir Cilincing, Gantungkan Hidup pada Kerang Hijau

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pengolahan kerang hijau milik tengkulak usai dibawa dari laut, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pengolahan kerang hijau milik tengkulak usai dibawa dari laut, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Suhajat (60) turun dari kapan nelayan di Pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5) siang. Di bawah teriknya matahari, dia memanggul karung berisi kerang hijau melewati gunungan sampah.

Bunyi gesekan dari kulit kerang di dalam karung terdengar saat kakinya melangkah melewati gunungan sampah menuju daratan.

“Saya lahir 1965. Dulu orang tua juga nelayan. Sekarang (saya juga nelayan) cucu saya sudah tiga,” tutur Suhajat, yang sudah melaut sejak era 1980-an.

Setiap pagi pukul 07.00, ia melaut seorang sejauh 1,5 kilometer. Dia melaut ke tambak-tambak rakit dari bambu yang berdiri di atas kedalaman 10 meter, di tempat budidaya kerang hijau.

Suasana pengolahan kerang hijau milik tengkulak usai dibawa dari laut, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Dalam sehari, Suhajat bisa membawa pulang tiga karung hasil tangkapan. Satu ember kerang dia jual seharga Rp 25 ribu, dengan berat sekitar tujuh kilogram.

“Kalau sehari bisa bawa Rp 200 ribu, ya Alhamdulillah. Tapi potong solar juga, 50 ribu. Kadang cuma sisa 100 ribu, paling kecil 50 ribu,” ujarnya.

Kepada kumparan, ia mengaku harus membeli solar dari pengecer karena pom nelayan tidak melayani.

“Satu hari habis enam liter untuk sekali jalan,” tambahnya.

Meski penghasilannya tidak menentu, Suhajat tetap bersyukur. “Nggak kayak karyawan, gaji tetap. Kita tergantung cuaca dan hasil.” katanya.

Warga beraktivitas di tumpukan limbah kulit kerang hijau yang menggunung melebihi tanggul laut setinggi 5 meter di kawasan pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Rantai Ekonomi Kerang Hijau

Hasil tangkapan seperti milik Suhajat tak langsung dijual. Sebagian besar harus melalui proses pengolahan awal, direbus, lalu dikupas. Di sinilah peran warga seperti Ujang (29) dan Masula (53) menjadi penting.

Suasana pengolahan kerang hijau milik tengkulak usai dibawa dari laut, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Ujang adalah perebus kerasa yang bekerja di salah satu dari banyak tempat tengkulak yang berjejer di balik tanggul. Ia menerima kerang dari para nelayan dan merebusnya dalam jumlah besar.

“Ada delapan gentong yang jadi tanggung jawab saya tiap hari,” ujarnya.

Perebusan kerang hijau di Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Setelah direbus, kerang diserahkan ke pengupas.

“Dari laut, direbus dulu, baru dikupas. Habis itu baru dijual ke Muara Baru,” jelasnya.

Di tempat tengkulak lain, terlihat Masula, buruh pengupas. Ia duduk di atas bangku pendek kayu. Di sekitarnya, lalat beterbangan dan sesekali tikus melintas. Namun tangannya tetap cekatan membuka cangkang demi cangkang kerang.

Di sini, kerangnya tidak direbus. Langsung dijual dalam kondisi mentah ke pasar yang sama.

“Kalau gemuk semua bisa 8 sampai 10 kilo sehari. Tapi kayak sekarang, isinya kurus, paling cuma 4 kilo,” katanya.

Suasana pengolahan kerang hijau milik tengkulak usai dibawa dari laut, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Ia mulai bekerja dari pukul 10 pagi hingga maghrib. Jika dirata-rata, ia membawa pulang sekitar Rp 30 ribu per hari.

“Sekilonya daging cuma Rp 3 ribu. Tapi ya dilumayanin aja dah, daripada nggak makan,” ungkapnya lirih.

Meski upahnya minim, suasana kerja terasa hangat dan akrab. “Tetangga rasa saudara. Makan nggak makan bareng-bareng,” kata Masula tersenyum.

Jadi limbah yang menggunung

Selain lalat dan bau amis, tumpukan limbah kulit kerang setelah dikupas itu menjadi pemandangan sehari-hari mereka. Di sisi balik tanggul yang menghadap ke laut, gunungan cangkang keras setinggi lebih dari lima meter terlihat jelas.

Anak-anak berlarian di atasnya tiap sore, bermain layangan. Bagi orang dewasa, tumpukan itu adalah ironi. Bahkan muncul kelakar, 'Timbun saja daratan yang tenggelam pakai kulit kerang, biar jadi darat lagi.'

Warga beraktivitas di tumpukan limbah kulit kerang hijau yang menggunung melebihi tanggul laut setinggi 5 meter di kawasan pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Warga bercerita, sekitar tahun 2015, pemerintah sempat membangun bak penampungan setinggi tiga meter dengan luas 20 meter persegi. Namun itu tak cukup menampung.

“Tapi kewalahan. Sehari masuk 2 ribu karung. Akhirnya ya numpuk, numpuk, numpuk. Nyerah. Sekarang baknya udah dibangun rumah,” kenang Abah Haliman (55), nelayan yang memiliki dua tambak kerang hijau.

Rantai ekonomi kerang hijau ini melibatkan banyak tangan—dari nelayan, perebus, pengupas, hingga tengkulak. Pendapatan yang diperoleh pun dibagi dalam banyak lapis.

Warga beraktivitas di tumpukan limbah kulit kerang hijau yang menggunung melebihi tanggul laut setinggi 5 meter di kawasan pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Tidak ada hari libur. Tidak ada upah tetap. Tak kepastian dari fluktuasi harga pasar atau harga solar ecer.

Namun di ujung utara Jakarta, di balik tanggul yang menjulang, kehidupan terus bergulir—dari satu karung kerang ke karung berikutnya.

Bagi warga pesisir Cilincing, kerang hijau bukan sekadar hasil laut. Ia adalah sandaran hidup, warisan keluarga, dan sumber penghasilan utama.