PPATK Sebut Transaksi Terkait Investasi Ilegal Lebih dari Rp 8 Triliun

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi banyak uang. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi banyak uang. Foto: Shutterstock

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) turut memantau transaksi-transaksi yang terkait dengan investasi ilegal. Nilainya hingga triliunan rupiah.

Kepala PPATK Ivan Yustiavadana menyebut bahwa sudah ada total 121 rekening yang dibekukan karena diduga terkait investasi ilegal. Nilai uang dalam rekening itu lebih dari Rp 353 miliar.

Namun, transaksi terkait rekening-rekening itu mencapai triliunan rupiah. "Transaksi yang kami pantau sementara sampai hari ini adalah sejumlah Rp 8,267 triliun," kata Ivan dalam konferensi pers, Kamis (10/3).

Menurut dia, transaksi yang dipantau itu bagian dari ratusan laporan yang diterima PPATK. Ia menyebut transaksi itu termasuk di antaranya terkait Forex, Viral Blast, Binary Option, hingga para afiliator.

Ia pun menyinggung soal adanya upaya pencucian uang dari hasil pendalaman soal transaksi tersebut. Sebab, ada transaksi pembelian barang mewah tapi tidak dilaporkan ke PPATK.

PPATK pun sudah berkoordinasi dengan Bareskrim terkait hal tersebut. Sebab, ada indikasi pencucian uang.

Indra Kenz. Foto: Instagram/@indrakenz
Influencer asal Kabupaten Bandung, Doni Salmanan. Foto: Dok. Istimewa

Ivan pun sempat menyinggung bahwa beberapa di antara rekening yang dibekukan itu ialah milik pihak yang sedang diproses hukum Bareskrim. Saat ini, tercatat ada dua orang yang sudah dijerat sebagai tersangka, Indra Kenz dan Doni Salmanan. Keduanya dijerat pasal judi online, penipuan, hingga pencucian uang.

PPATK mengingatkan masyarakat untuk tidak tergiur bila mendapat penawaran investasi dengan keuntungan instan. Sebab, kemungkinan besar hal itu ialah penipuan.

"Ada kecenderungan investasi itu dilakukan secara menipu, dikemas sedemikian menarik sehingga itu melalaikan publik masyarakat apalagi dengan tawaran yang luar biasa instan," kata Ivan.

"Kami harap publik lebih aware potensi serupa yang akan terjadi di kemudian hari," pungkasnya.

Reporter: Hedi