Prabowo: Kadang-Kadang Akademisi Tinggi Pengetahuannya, Tak Luas Pemahamannya
·waktu baca 2 menit

Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, menyentil akademisi dan pemahamannya yang dinilai kurang sempurna. Hanya menguasai bidang keilmuan dari satu sisi saja.
"Kadang-kadang para akademisi hanya belajar dari satu sektor, hanya belajar dari satu segi, hanya melihat satu situasi dari satu aspek. Dan kadang justru seorang yang tinggi pendidikannya tetapi tidak luas pemahamannya," kata dia saat menghadiri wisuda Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Kota Bandung, Kamis (29/2).
Misalnya, menurut Prabowo, kaum intelektual yang mempelajari ilmu politik terkejut ketika dihadapkan dengan realitas di lapangan. Sering kali, realitas di lapangan tak sesuai dengan hal-hal yang dipelajari di buku.
"Dia menguasai ilmunya, bidangnya, tapi dia tidak bisa melihat realita," ucap dia.
Selain itu, Prabowo juga menilai kaum intelektual di Indonesia mempunyai sifat yang kurang percaya diri. Mereka acap kali menyepakati apa pun yang dikatakan oleh bangsa lain.
"Saudara-saudara sekalian, kita kadang kurang percaya diri, termasuk para sarjana, para guru besar kita, kadang apa yang dikatakan oleh negara tertentu, kita iya aja terus," ucap dia.
Lebih lanjut, Prabowo mengucapkan penghargaan pada UKRI yang akan segera mendirikan program studi baru yakni program studi matematika dan ilmu pengetahuan alam. Dia menilai dua program studi itu dibutuhkan di masa mendatang.
"MIPA (matematika dan ilmu pengetahuan alam) jadi dasar bagi semua, semua masa depan kita akan bergantung pada MIPA, matematika, fisika, kimia, biologi menghadapi virus pandemi, kita butuh ahli biologi, menghadapi krisis pangan dunia, maka kita butuh ahli biologi," kata dia.
"Untuk menghasilkan obat yang bisa terjangkau oleh seluruh rakyat Indonesia, kita butuh ahli kimia, kita harus bikin obat di Indonesia bukan impor obat lagi. Kita tidak bisa bergantung pada bangsa lain," lanjut dia.
