Prabowo ke PM Thailand Anutin: Kunjungan Ini Bersejarah, Pertama dalam 15 Tahun

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Prabowo Subianto (tengah) bersama Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul (kanan) memeriksa pasukan saat upacara penyambutan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8/2026).  Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto (tengah) bersama Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul (kanan) memeriksa pasukan saat upacara penyambutan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Presiden Prabowo Subianto menyebut kunjungan resmi Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul ke Indonesia sebagai momen bersejarah. Pasalnya, kunjungan tersebut merupakan lawatan resmi pertama seorang PM Thailand ke Indonesia dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.

Hal itu disampaikan Prabowo saat pertemuan bilateral dengan PM Anutin di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/8).

"Perdana Menteri, kunjungan Anda hari ini memang bersejarah dan sangat penting. Ini adalah kunjungan resmi pertama Perdana Menteri Thailand ke Indonesia dalam 15 tahun. Mungkin karena kita begitu dekat dan tidak memiliki masalah nyata, kita menganggap semuanya sebagai hal yang biasa," kata Prabowo.

Ia menilai Indonesia dan Thailand perlu lebih sering bertemu dan berkoordinasi untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang.

"Saya pikir mungkin kita harus lebih sering bertemu dan berkoordinasi," ujarnya.

Meski demikian, Prabowo mengakui forum ASEAN selama ini telah menjadi wadah yang efektif untuk menyamakan pandangan kedua negara.

"Terkadang pertemuan ASEAN juga sangat bermanfaat. Misalnya, dalam pertemuan terakhir kita di Cebu, saat itu kita menemukan kesamaan pandangan dalam banyak isu," ucapnya.

Menurut Prabowo, Indonesia dan Thailand memiliki perspektif yang sejalan dalam berbagai persoalan kebijakan luar negeri dan hubungan internasional.

"Ketika kita membahas banyak aspek kebijakan luar negeri dan hubungan internasional, kita memiliki sudut pandang yang cukup sama," tandas dia.