Prabowo Kutip Teori Thukidides Saat Jawab Isu Uighur, Rohingya, dan Palestina

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menjawab pertanyaan panelis saat menghadiri Dialog Publik di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Jawa Timur, Jumat (24/11/2023). Foto: Moch Asim/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menjawab pertanyaan panelis saat menghadiri Dialog Publik di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Jawa Timur, Jumat (24/11/2023). Foto: Moch Asim/ANTARA FOTO

Capres dari Koalisi Indonesia Maju (KIM), Prabowo Subianto, menghadiri dialog publik yang digelar PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jumat (24/11). Dalam acara itu, Prabowo mendapatkan pertanyaan terkait masalah yang menimpa suku Uighur, suku Rohingya, hingga di Palestina.

Pertanyaan ini dilontarkan oleh salah satu panelis dari bidang keagamaan dan hubungan luar negeri, Profesor Syafiq A Mughni. Dalam pertanyaannya, Syafiq menyebut akhir-akhir ini masih banyak terdengar isu perbudakan etnis Uighur di China hingga cerita soal orang-orang Rohingya di Myanmar yang jadi perdebatan internasional.

"Kita juga masih melihat bagaimana di Palestina. Kira-kira nanti kalau Bapak ditakdirkan oleh Allah SWT untuk jadi presiden, apa langkah-langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan tersebut?" tanya Syafiq dalam acara tersebut.

Prabowo lalu menjawab pertanyaan tersebut dengan mengutip teori yang dikemukakan oleh Thukidides, seorang sejarawan dan penulis dari Alimos, Yunani, di era 400-an Sebelum Masehi (SM). Teori Thukidides itu, kata Prabowo, biasanya diajarkan di sekolah-sekolah di negara-negara besar.

"Di hubungan antar-bangsa terdapat suatu ajaran, dan ini saya ajarkan di mana-mana, di seluruh negara besar, di sekolah-sekolah, di semua universitas yang belajar politik, belajar strategi, belajar pertahanan, belajar perang. Ajaran ini yaitu yang disebut hukum Thukidides," jawab Prabowo.

Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto (keempat kiri) menerima Tanda Kehormatan Anggota Muhammadiyah secara simbolis dari Ketua PP Muhammadiyah Irwan Akib usai Dialog Publik di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Jawa Timur, Jumat (24/11). Foto: Moch Asim/ANTARA FOTO

Dalam teori itu, kata Prabowo, ada satu adagium "The strong will do what they can and the weak suffer what they must" atau yang diartikan sebagai "Pihak yang kuat akan melakukan apa yang mereka bisa, dan yang lemah akan menderita." Teori ini, menurut Prabowo, jarang diajarkan di Indonesia.

"Sekarang katakanlah kita ingin membantu Rohingya. Apa yang kita bantu? Rakyat kita sendiri kurang makan, anak-anak kita sekitar 20% lebih kurang gizi. Tadinya kita terima Rohingya, sekarang kasihan rakyat Aceh. Ini saya bicara praktisi," lanjutnya.

Di Palestina pun, Prabowo mengungkapkan, Indonesia sudah membantu sebisa mungkin. Misalnya dengan mengirimkan bantuan bahan makanan hingga obat-obatan.

"Kita kirim bantuan, kemarin kita kirim 50 ton. Saya lalu dapat dari Menteri Pertahanan Mesir, saya telepon dia, Gaza butuh satu ton sehari," ungkap Prabowo.

Sedangkan untuk kasus etnis Uighur, Prabowo menyebut Indonesia mencoba memberikan bantuan nyata melalui pendekatan diplomatis dengan pemerintah China. Indonesia mengutamakan persahabatan untuk bisa mengirimkan delegasi ke sana.

"Dengan bersahabat, kita bisa diterima dan mereka undang kita. Mungkin kalau Muhammadiyah mau bikin delegasi, saya akan bicara, pasti mereka terima," tandasnya.