Prabowo Pantau Ibu Hamil Meninggal Ditolak 4 RS di Papua, Kemenkes Investigasi
·waktu baca 3 menit

Wakil Menteri Kesehatan II Benjamin P. Octavianus menyampaikan bahwa investigasi terkait kasus kematian ibu hamil dan bayi di Papua masih berlangsung. Sanksi akan ditetapkan setelah hasil pemeriksaan selesai.
Ia menegaskan, Presiden Prabowo sangat concern akan hal ini. Prabowo pun sudah memanggil jajaran petinggi Kemenkes.
“Pak Presiden saja sudah manggil, tanya, kenapa bisa terjadi? Maka itu, kita melakukan investigasi, dan itu kewajiban Kementerian Kesehatan menginvestigasi,” ujar Benjamin di The Grand Platinum Hotel, Jakarta, Selasa (25/11).
Ia menjelaskan, Kemenkes telah mengirim tiga orang tim investigasi ke Papua. “Kita sudah mengirim tiga orang berangkat kemarin ke Papua untuk melakukan investigasi,” katanya.
Wamenkes memaparkan temuan awal bahwa pasien ibu hamil sempat dipindahkan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain karena berbagai kendala pelayanan. “Dokter di wilayah itu cuma satu dan sedang cuti. Pada pemeriksaan awal sudah disarankan pasien ini harus operasi karena berat bayi lebih gede daripada panggulnya. Waktu dia pindah lagi ke rumah sakit lain, terjadi gawat janin.”
Sementara, di rumah sakit lain, ruang kelas tiga dalam kondisi penuh. “Karena dari satu tempat ke tempat lain, ada masalah dengan pelayanan, rumah sakit itu punya pelayanan bahwa kelas tiganya penuh,” kata Benjamin.
Ia menambahkan, “Dan itu sedang kita investigasi. Seperti apa sih. Supaya kita jangan sampai, kasihan kalau orang kita judge padahal mungkin mereka sudah bekerja mati-matian,” ujarnya.
Ia menegaskan untuk menunggu hasil lengkap investigasi. “Nanti setelah pulang, detail-nya seperti apa. Kita masih investigasi. (Sanksinya) sabar dulu,” pungkas Benjamin.
Sekilas Kasus
Ibu hamil asal Kampung Hobong, Irene Sokoy bersama bayi dalam kandungannya meninggal dunia pada Senin, 17 November 2025.
Ipar Irene, Ivon Kabey, menjelaskan Irene dibawa dari Kampung Kensio menuju RS Yowari Minggu (16/11) siang untuk proses persalinan.
"Awalnya kami tiba di RSUD Yowari pukul 15.00 WIT dengan status pasien pembukaan enam dan ketuban pecah, tetapi proses persalinan tidak kunjung ditangani karena dugaan bayi berukuran besar, yakni empat kilogram," kata Ivon dikutip dari Antara, Minggu (23/11).
Dia mengatakan, keluarga meminta percepatan rujukan karena kondisi Irene semakin gelisah, tetapi surat rujukan baru selesai mendekati tengah malam, diikuti keterlambatan ambulans yang tiba pukul 01.22 WIT, Senin (17/11).
"Rujukan ke RS Dian Harapan dan RS Abe menolak karena ruangan penuh serta renovasi fasilitas," katanya.
Setelah ditolak 3 RS, Irene kembali dirujuk ke RS Bhayangkara. Lagi-lagi Irene ditolak karena harus membayar uang muka terlebih dahulu sebesar Rp 4 juta. Saat itu keluarga tidak punya uang sebanyak itu.
"Lanjut kami ke RS Bhayangkara pasien tidak diterima tanpa uang muka Rp 4 juta," ujarnya.
Karena tidak ada uang, Irene lalu kembali dirujuk ke RSUD Dok II Kota Jayapura. Namun Irene meninggal di perjalanan pukul 05.00 WIT.
"Sejak awal adik ipar saya tidak ditangani dengan baik, kami ke beberapa rumah sakit dan terus ditolak, sampai akhirnya adik saya meninggal dalam perjalanan bersama bayi yang dikandung," katanya.
