Prabowo Pikirkan MBG Pagi, Siang, Sore, Malam
ยทwaktu baca 3 menit

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan Presiden Prabowo Subianto terus memikirkan makan bergizi gratis (MBG) dari pagi hingga malam hari. Bahkan, sebelum tidur dan saat bangun tidur yang dipikirkan Prabowo adalah MBG.
"Pak Presiden selalu memikirkan, pagi, siang, sore, malam, bahkan sebelum tidur, bangun tidur, yang dipikirkan adalah makan bergizi, uangnya berapa yang harus disiapkan," kata Dadan saat membuka Peresmian dan Launching 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di DIY di Tebing Breksi, Prambanan, Kabupaten Sleman, Selasa (20/5).
"Alhamdulillah, kita sudah siapkan 71 triliun, dan kemarin Pak Presiden sudah bertanya, 'Apakah 100 triliun yang disiapkan akan cukup?' Saya bilang, 'Lebih dari cukup, Pak, kami hanya butuh tahun 2025 itu hanya tambahan 50 triliun.' Jadi, total anggaran untuk makan bergizi tahun 2025 akan Rp 121 triliun," jelasnya.
Dadan mengatakan sisa anggaran Rp 50 triliun yang tak digunakan untuk MBG, oleh Prabowo akan digunakan untuk program pembangunan lainnya.
"Supaya semuanya bergerak maju. Tetapi yang pertama kali digaransi oleh Pak Presiden adalah kebutuhan makan bergizi harus cukup," katanya.
BGN Anggaran Paling Besar
Di sisi lain, Dadan bilang dirinya sudah tahu pagu indikatif anggaran tahun 2026. Alokasi untuk BGN paling tinggi bahkan melebihi Kementerian Pertahanan.
"Jadi, Pak Yandri (Mendes), jangan iri ya, Pak. Karena Badan Gizi akan menjadi badan dengan anggaran paling besar. Termasuk Pak Putranto (Kepala Staf Kepresidenan, Letjen TNI (Purn) AM Putranto) ini kan dari TNI, ya, termasuk untuk Kementerian Pertahanan pun lewat oleh Badan Gizi di tahun 2026," katanya.
3 Kunci Kesuksesan MBG
Ada tiga kunci sukses MBG menurut Dadan. Pertama adalah anggaran yang ini sudah dijamin oleh Presiden Prabowo. Lalu yang kedua adalah SDM.
"SDM-nya itu adalah sarjana penggerak pemuda Indonesia yang akan menjadi Kepala SPPG. Seluruh SPPG di Indonesia akan dipimpin oleh Ka SPPG (Kepala SPPG) yang dididik melalui SPPI, supaya kita bisa bergerak cepat dan terkoordinasi dengan baik," katanya.
Saat ini ada 30 ribu orang dari seluruh Indonesia yang tengah dididik. Mereka nanti akan memimpin SPPG di Indonesia.
Sementara kunci ketiga adalah infrastruktur. Sehingga langkah kerja sama 14 SPPG di DIY dengan Badan Usaha Milik Desa atau BumDes dinilai langkah tepat.
"Nah, infrastruktur ini, BumDes ini adalah salah satu yang membuat Badan Gizi menjadi ringan melangkah. Kenapa? Karena infrastrukturnya disiapkan oleh para mitra. Badan Gizi sendiri hanya menganggarkan untuk membangun 2.000 satuan pelayanan pemenuhan gizi, dan itu akan difokuskan di daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh mitra, di daerah-daerah terpencil, terluar," ujarnya.
Di tempat yang sulit itu BGN akan hadir karena apabila mitra yang masuk mereka mungkin akan kesulitan mendapat untung.
"Jadi di tempat-tempat seperti itu, Badan Gizi akan hadir menggunakan uang negara, yang sekarang belum terjadi karena masih dalam proses tender," katanya.
Dirinya juga mendapat banyak masukan agar program MBG dilaksanakan di daerah termiskin dan terluar dahulu.
"Untuk daerah-daerah seperti itu tetap harus menggunakan uang negara, dan uang negara itu prosesnya panjang. Jadi, di tempat-tempat seperti itu baru akan menerima manfaat, mungkin paling cepat di bulan Agustus, karena infrastrukturnya harus kita bangun dulu," kata Dadan.
