Prabowo: Sekolah Rakyat Potong Rantai Kemiskinan

20 Oktober 2025 17:39 WIB
·
waktu baca 2 menit
clock
Diperbarui 17 November 2025 15:56 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prabowo: Sekolah Rakyat Potong Rantai Kemiskinan
Pencapaian Sekolah Rakyat menjadi salah satu yang dibahas Prabowo saat membuka sidang kabinet paripurna.
kumparanNEWS
Presiden Prabowo menyampaikan paparan saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu (20/10/2025). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo menyampaikan paparan saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu (20/10/2025). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden
ADVERTISEMENT
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutan sebelum menggelar sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (20/10). Salah satu yang ia sampaikan ialah pencapaian dari program Sekolah Rakyat.
ADVERTISEMENT
Prabowo mengatakan saat ini sudah berdiri 166 Sekolah Rakyat. Ratusan sekolah itu telah beroperasi jauh lebih cepat dari target awal, yakni pertengahan 2026.
"Sekarang 15.945 siswa dan siswi dari keluarga yang paling bawah di bidang ekonomi, Desil 1 dan 2. Yang tadinya banyak tidak sekolah sama sekali, ada yang bantu orang tuanya jadi pemulung, ada yang hidup di jalanan sekarang sudah bisa bersekolah di Sekolah Rakyat," kata Prabowo.
Belajar mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemensos RI
Menurut Prabowo Sekolah Rakyat dibuat untuk memotong rantai kemiskinan di masyarakat. Ia meyakini hal itu bisa terwujud.
"Memang Sekolah Rakyat itu kita rancang sebagai upaya untuk memotong rantai kemiskinan. Biasanya anak orang miskin anaknya miskin, kita mau potong itu. Anaknya orang miskin atau cucunya orang miskin tidak perlu untuk terus miskin. Kita harus berani mengubah kita harus berani memotong rantai kemiskinan," tutur mantan Menteri Pertahanan tersebut.
ADVERTISEMENT
Prabowo meminta kabinetnya tidak menyerah untuk mewujudkan hal itu. Sebab masyarakat miskin kerap tidak dipandang oleh para elite.
"Kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Orang paling bawah ini paling tidak dilihat. Kelompok elite tidak pernah melihat apalagi merasakan kesulitan mereka," ujarnya.