Prabowo Tak Setuju Neoliberalisme: Kekayaannya 200 Tahun Tak Netes ke Bawah
·waktu baca 2 menit

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan dirinya tidak setuju dengan mazhab ekonomi neoliberalisme. Pasalnya, orang-orang kaya dalam mazhab neoliberal tidak akan meneteskan kekayaannya ke rakyat kelas bawah.
Hal tersebut Prabowo sampaikan dalam perayaan Harlah ke-27 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (23/7) malam.
Mulanya, Prabowo menyoroti masih banyak rakyat yang tidak punya rumah layak, kelaparan, anak-anak yang mengalami stunting, hingga kesulitan mencari kerja. Dia menekankan, itu bukan tujuan bernegara.
"Tujuan bernegara, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial," ujar dia.
Lantas, Prabowo menyinggung Pasal 33 ayat 1 yang menjadi tujuan nasional, di mana perekonomian disusun sebagai usaha bersama, atas azas kekeluargaan, bukan azas konglomerasi.
Dia menyebut, semua rakyat di Indonesia harus diperlakukan sebagai keluarga. Namun, tujuan nasional tersebut bertabrakan dengan mazhab ekonomi neoliberal.
"Ini bertentangan dengan mazhab-mazhab ekonomi, terutama mazhab ekonomi neoliberal," ucap Prabowo.
Prabowo mengatakan, dalam mazhab neoliberal, orang-orang kaya akan dibiarkan bertambah kaya. Karena, segelintir orang tersebut akan meneteskan kekayaannya ke bawah. Namun, pada kenyataannya, Prabowo menyoroti mereka tidak akan pernah meneteskan kekayaannya.
"Tapi kenyataannya, menetesnya lama banget. Menetesnya 200 tahun, sudah mati kita semua ini. Jadi tidak benar. Ndak benar. Tidak akan netes ke bawah. Saudara merasa menetes ke bawah?" teriak Prabowo.
"Tidak," balas hadirin.
"Setetes pun enggak ya. Jadi kita diakal-akalin," tandas dia.
