Pram: Pasar Santa dan 'Negara Blok M' Tak Kalah dengan Tsukiji Market di Tokyo

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dalam acara FGD Transforming Jakarta's Markets di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (23/2). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dalam acara FGD Transforming Jakarta's Markets di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (23/2). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai pasar-pasar di Jakarta memiliki kualitas yang tidak kalah dengan pasar terkenal di luar negeri.

Menurut dia, tantangan utama pasar di Jakarta bukan pada kualitas, melainkan pada pengelolaan dan integrasi yang belum optimal.

“Kita semua berpikir bahwa pasar itu harus berevolusi, tidak boleh hanya sekadar menjadi tempat untuk transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi tempat untuk sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya,” kata Pramono dalam acara FGD Transforming Jakarta’s Markets di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (23/2).

Pasar ikan Tsukiji, Jepang Foto: Reuters/Issei Kato

Pramono mencontohkan pasar-pasar di Jepang dan negara lain. Ia menyebut Tsukiji Market di Tokyo dan Nishiki Market di Kyoto, menjadi destinasi yang dicari karena memberi ruang interaksi sosial sekaligus kenyamanan.

“Saya yakin Saudara-Saudara sekalian di ruangan ini yang pernah pergi ke Tokyo pasti nyari Tsukiji Market. Karena itu bagian hal yang di sana kita bisa berinteraksi, di sana kita bisa melakukan banyak hal, minum kopi, dan sebagainya,” katanya.

Tsukiji Market adalah pasar ikan dan hasil laut terbesar di dunia. Sedang Nishiki Market adalah pasar tradisional yang sangat ikonik, berbentuk lorong panjang sempit dengan atap warna-warni yang sudah ada selama ratusan tahun.

Jakarta Tak Kalah

Menurut Pramono, Jakarta sebenarnya memiliki banyak pasar dengan kualitas yang setara, bahkan tidak kalah dengan pasar internasional lainnya.

“Di Jakarta ini, sebenarnya banyak market yang tidak kalah dengan hal tersebut. Termasuk tidak kalah dengan Chatuchak Plaza yang ada di Bangkok maupun Markthal yang ada di Rotterdam dan sebagainya, enggak kalah,” kata dia.

Toko Kawaki Roastery yang menjual biji kopi dan menyediakan kedai kopi di Pasar Santa, Jakarta Selatan. Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

“Problemnya adalah belum terintegrasi dan dikelola secara baik, secara internasional. Kalau kita datang ke Tsukiji Market, mau latar belakangnya dia menteri, presiden, perdana menteri, gubernur, orang bisa enjoy menikmati,” lanjutnya.

Pasar Santa dan Pecinan Glodok

Pramono mencontohkan Pasar Santa dan kawasan Pecinan Glodok yang menurutnya memiliki kualitas tinggi. Bahkan, ia secara langsung melihat kondisi Glodok menjelang Imlek.

“Padahal secara kualitas, apa yang kita lihat di Pasar Santa misalnya, atau Pecinan Glodok, enggak kalah,” jelas Pramono.

Suasana Petak Sembilan di Kawasan Pasar Glodok, Jakarta Barat jelang Imlek pada Sabtu (14/2/2026). Foto: Luthfi Humam/kumparan

“Karena mau Imlek, kemarin saya sengaja melihat Glodok secara sendiri, saya enggak mau bawa staf, luar biasa. Bahkan lebih dari Tsukiji Market maupun lebih dari Nishiki Market yang ada di Kyoto,” jelas Pram.

Negara Blok M

Selain Pasar Santa, Pramono juga menyoroti kawasan Blok M yang tengah berkembang pesat sebagai pusat kuliner dan ruang berkumpul anak muda atau Gen Z.

Ia menyebut kawasan itu kini kerap dijuluki 'Negara Blok M' karena hampir semua kuliner di sana viral.

Suasana pengunjung saat berwisata pada libur Natal di Kawasan Blok M Square, Jakarta Selatan, Jumat (26/12/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

“Begitu booming seperti Blok M sekarang ini, enggak ada yang mengalahkan Blok M sampai sekarang disebut dengan ‘Negara Blok M’,” tutur politikus PDIP ini.

Pram menegaskan, peran pemerintah adalah menjaga agar ekosistem pasar dan kawasan kuliner tersebut tetap hidup dan berkelanjutan, tidak hanya bersifat sementara karena tren.

“Maka tugas dari pemerintah dalam hal ini untuk menjaga supaya ekosistem ini terjaga, tidak kemudian begitu mengalami perubahan, mati,” ungkap dia.

Suasana pengunjung saat berwisata pada libur Natal di Kawasan Blok M Square, Jakarta Selatan, Jumat (26/12/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Transaksi Ekonomi Pasar Rp 150 T/Tahun

Pramono juga menyebut, pasar memiliki peran strategis sebagai katalis pembangunan Jakarta. Berdasarkan data yang ia sampaikan, transaksi ekonomi pasar di Jakarta mencapai lebih dari Rp 150 triliun per tahun dengan keberadaan ratusan ribu UMKM.

“Di pasar sekarang ini secara ekonomi mungkin di Jakarta termasuk yang lebih dari Rp 150 triliun per tahunnya transaksi di pasar. Di Jakarta itu ada 153 pasar, ada kurang lebih 286 ribu UMKM kita,” jelas Pramono.

Ia menambahkan, perubahan gaya hidup, khususnya di kalangan Generasi Z, menjadi peluang untuk mengembangkan pasar sebagai ruang sosial yang lebih hidup.

Sejumlah warga tampak memilih dan membeli berbagai pernak-pernik khas Tahun Baru Imlek di kawasan Pecinan Jakarta, tepatnya di Jalan Pancoran, Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, Kamis (29/1/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

“Bahkan sekarang ini tren-tren baru, terutama di Gen Z, orang tidak lagi misalnya seperti dulu. Sekarang hangout nya itu malah pagi hari. Salah satunya menikmati pasar. Kemudian mereka habis olahraga, mereka berkumpul di sana,” kata Pramono.

“Maka untuk itu, mari kita rancang pasar-pasar di Jakarta itu lebih membuat homey orang untuk datang kembali,” tambah dia.