Pramono Anung: Saya Kehilangan Sosok Fahri dan Fadli untuk Kritisi Pemerintah

Pasca-pemilu 2019, konstelasi politik di Indonesia bisa dibilang senyap, cenderung tak banyak dinamika. Sekretaris Kabinet Pramono Anung menilai, saat ini kondisi politik nasional sungguh stabil.
Menurut dia, pemerintahan Presiden Jokowi berhasil merangkul berbagai elemen dalam politik Indonesia. Namun, Pramono menilai politik tanpa kritik tak selamanya baik.
"Tapi kalau stabilitas politiknya dirangkul dan betul-betul stabil, tidak ada dinamika, kritik, sebetulnya juga tidak baik," kata Pramono di acara Kemitraan di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Rabu (4/3).
"Salah satu kelemahan bangsa timur, kalau tidak ada oposisi, tidak ada yang mengkritik, maka yang mengkritik, yang menjadi musuh biasanya temannya sendiri," sambung Pramono.
Pramono mengatakan, saat ini 74 persen fraksi di DPR mendukung pemerintah Jokowi-Ma'ruf. Dengan kondisi ini, lanjut Pramono, sudah jarang terdengar adanya kritik bagi pemerintah dari DPR.
Bahkan, Pramono mengaku kehilangan politikus kritis seperti Fadli Zon hingga Fahri Hamzah yang sebelumnya sangat vokal mengkritik pemerintahan Jokowi di periode pertama.
"Tidak ada yang mengawal, tidak ada yang mengontrol, tidak ada yang mengkritisi. Maka saya pribadi kehilangan orang-orang seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon untuk mengkritisi pemerintahan ini, karena itu menjadi vitamin," ujarnya.
"Bahkan kadang-kadang ketika di berita enggak ada, saya sampai cari Twitternya Pak Fahri, Pak Fadli, Rocky Gerung kenapa kok enggak bersuara yang membuat kita bergairah. Maka kami harapkan ada ruang yang bisa diisi oleh Kemitraan," sambungnya.
Adapun Kemitraan yang dimaksud oleh Pramono merupakan Organisasi Masyarakat Sipil yang bergerak di berbagai bidang. Saat ini, Direktur Eksekutif Kemitraan adalah mantan komisioner KPK Laode M Syarif.
"Dalam hal ini kita harus sinergi, kolaborasi dan saling menguntungkan. Posisinya adalah sejajar. Bapak bisa mengkritik, bisa masuk kapan saja di dalam pemerintahan ini, tetapi juga harapannya bisa memberikan solusi," ujarnya.
Pramono juga menyebut, pemerintah Jokowi-Ma'ruf menyediakan ruang seluas-luasnya bagi publik untuk mengkritik atau memberi masukan. Ia mengatakan, Presiden Jokowi selalu menerima jika dikritik.
"Tanpa kritik tidak menjadi vitamin, tidak akan bisa. Dan kebetulan terus terang saja, Presiden kita adalah presiden yang kalau dikritik itu bukan kemudian baper. Beliau malah kalau dikritik itu menjadi energinya presiden," pungkasnya.
