Pramono Bicara soal Jakarta Global City: Transportasi Terintegrasi-Penerapan AI
·waktu baca 3 menit

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaparkan berbagai langkah yang dilakukan Pemprov DKI untuk mendorong Jakarta menjadi kota global melalui penguatan transportasi publik, pemanfaatan teknologi digital, hingga penerapan kecerdasan buatan.
Hal itu disampaikan Pramono saat menyampaikan paparannya yang bertema “Jakarta Global City” di Jakarta Selatan, Kamis (18/6).
Menurut Pramono, salah satu indikator perubahan Jakarta menuju kota global terlihat dari perbaikan sistem transportasi publik yang kini semakin terintegrasi dengan wilayah penyangga.
“Ketika Jakarta melakukan pembenahan yang berkaitan dengan transportasi publik ini. Dulu ketika saya mencanangkan tentang Trans Jabodetabek, pasti orang enggak menyangka bahwa itu kemudian secara signifikan memengaruhi bagaimana Jakarta dalam sistem transportasinya,” kata Pramono dalam paparannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, kehadiran rute-rute Trans Jabodetabek dari kawasan penyangga menuju Jakarta menjadi solusi bagi mobilitas sekitar 3,5 hingga 4 juta komuter yang setiap hari masuk dan keluar ibu kota.
Pramono mencontohkan rute Blok M-Bogor yang awalnya ditargetkan melayani sekitar 2.000 penumpang per hari. Kini jumlah pengguna mencapai lebih dari 8.000 orang per hari.
Pram meyakini peningkatan layanan transportasi publik menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.
“Jakarta sudah dengan konektivitas 93 persen. Dulu awal-awal saya menjabat gubernur, orang menggunakan kendaraan publik secara terus-menerus baru kurang 22 persen. Sekarang sudah mendekati angka 30 persen,” ujarnya.
Pramono juga mengatakan, kualitas transportasi publik Jakarta kini mendapat pengakuan internasional. Menurutnya, Jakarta saat ini berada di posisi kedua di ASEAN dalam sektor transportasi publik, hanya berada di bawah Singapura.
Selain transportasi, Pramono juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dan AI untuk mendukung tata kelola kota modern. Salah satu implementasinya adalah penerapan intelligent traffic control system yang memanfaatkan CCTV dan teknologi digital untuk mengatur lalu lintas serta memantau kondisi kota secara real time.
Ia mengungkapkan Pemprov DKI bahkan telah mewajibkan gedung bertingkat empat atau lebih untuk berbagi akses CCTV dengan Pemprov DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya guna memperkuat sistem pengawasan kota.
“Ini akan menjadi puluhan ribu CCTV yang terkoneksi secara baik,” katanya.
Pramono juga menyoroti aplikasi Jakarta Kini (JAKI) yang masyarakat dapat mengakses berbagai layanan publik dan menyampaikan laporan secara langsung kepada pemerintah.
Selain JAKI, Jakarta juga memiliki sistem geospasial terintegrasi Jakarta Satu yang digunakan untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis data.
Dalam kesempatan itu, Pramono menyebut posisi Jakarta dalam indeks kota global mengalami peningkatan. Saat dirinya mulai menjabat, Jakarta berada di peringkat 74 kota global. Kini posisi tersebut naik menjadi peringkat 51.
“Target saya, di tahun ini mudah-mudahan kita sudah di angka 60 lebih, artinya di angka 60,” ujarnya.
Untuk mendukung agar Jakarta masuk jajaran kota global terkemuka dunia, Pramono mengatakan Pemprov DKI terus mempercepat penyelesaian sejumlah proyek strategis, mulai dari penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said, pengembangan akses menuju Jakarta International Stadium (JIS), hingga pembangunan MRT fase lanjutan melalui skema kolaborasi dengan sektor swasta.
Menurut Pramono, membangun Jakarta sebagai kota global tidak hanya mengandalkan pembangunan fisik, tetapi juga penguatan sistem pemerintahan, kepercayaan publik, dan pengembangan talenta muda yang memahami persoalan bangsa.
“Saya termasuk yang percaya bahwa salah satu yang diperlukan oleh bangsa ini ke depan adalah talenta-talenta yang tahu permasalahan bangsanya. Kalau dia tahu persoalan itu, dia bisa melakukan inovasi, dia bisa terkoneksi dengan global connectivity,” tuturnya.
