Pramono: Bir Pletok hingga Dodol Kini Jadi Suguhan Wajib untuk Tamu Balai Kota

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bir pletok, salah satu minuman khas Indonesia yang kaya manfaat. Foto: Kemenparekraf
zoom-in-whitePerbesar
Bir pletok, salah satu minuman khas Indonesia yang kaya manfaat. Foto: Kemenparekraf

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat identitas budaya Betawi dalam berbagai aktivitas pemerintahan.

Salah satu langkah yang kini diterapkan adalah menjadikan bir pletok dan dodol sebagai suguhan wajib bagi tamu yang datang ke Balai Kota DKI Jakarta.

Pramono mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari komitmennya untuk memenuhi janji dalam melestarikan budaya Betawi selama memimpin Jakarta.

“Saudara-saudara sekalian apa yang saya lakukan untuk Betawi karena janji saya. Kalau saudara-saudara lihat sekarang ini hampir semua kegiatan pemerintahan di Balai Kota warnanya Betawi,” kata Pramono saat menghadiri Milad ke-25 Forum Betawi Rempug (FBR) di Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (1/8).

Dagangan dodol betawi dalam acara Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4/2026). Foto: Melano Shalusa/kumparan

Menurut Pramono, nuansa Betawi kini tidak hanya ditampilkan dalam penyelenggaraan acara pemerintahan, tetapi juga diterapkan dalam prosesi pelantikan pejabat di lingkungan Balai Kota.

Ia mengungkapkan telah mewajibkan pelantikan pejabat dilakukan setiap hari Rabu dengan mengenakan pakaian adat Betawi.

“Bahkan untuk melantik pejabat di Balai Kota saya mewajibkan setiap hari Rabu pelantikan. Semuanya harus pakai kebaya encim pakai apa yang serong-serong tadi? Ujung serong sampai lupa,” tuturnya.

Selain itu, Pramono mengatakan suguhan khas Betawi yang sebelumnya tidak pernah tersedia dalam kegiatan di Balai Kota kini menjadi bagian dari jamuan wajib.

Ia menyebut dodol dan bir pletok kini selalu disajikan kepada tamu yang berkunjung ke Balai Kota.

Produksi Bir Pletok Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

“Dan seluruh kegiatan di Balai Kota yang dulu enggak pernah ada yang namanya dodol yang saya pada waktu itu diajak Bang Foke pergi ke tempat itu. Sekarang dodol itu disajikan bahkan Bir Pletok menjadi minuman wajib bagi siapa pun yang datang ke Balai Kota,” katanya.

Menurut Pramono, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan budaya Betawi dalam kehidupan pemerintahan sehari-hari, bukan hanya sebatas pertunjukan kesenian.

Ia juga mengaku bersyukur dapat menghadiri peringatan Milad ke-25 FBR karena organisasi tersebut dinilainya memiliki akar rumput yang kuat di Jakarta.

“Maka dengan demikian Bapak Ibu Saudara-saudara sekalian, sekali lagi saya bersyukur hari ini hadir milad FBR ke-25. Kenapa saya bersyukur? Yang pertama saudara-saudara sekalian, ini adalah organisasi akar rumput yang besar di Jakarta,” jelas Pramono.

“Ini adalah organisasi yang solid. Enggak pernah saya datang ke acara yang sebenarnya mohon maaf lebih dari 1 jam atau 45 menit, jadwalnya gubernur ini padat banget, tapi untuk Kiai Lutfi (Ketum FBR, KH Lutfi Hakim) hari ini saya enggak membatasi,” sambungnya.

Pramono kembali menegaskan bahwa pelestarian budaya Betawi tidak cukup hanya diwujudkan melalui simbol-simbol budaya seperti ondel-ondel atau palang pintu. Menurutnya, yang lebih penting adalah memastikan identitas dan nilai-nilai budaya Betawi tetap diwariskan kepada generasi mendatang.

“Sehingga dengan demikian saudara-saudara sekalian hal yang menyangkut kebetawian bukan hanya urusannya ondel-ondel palang pintu, bukan. Urusan yang paling mendasar adalah menjawab pertanyaan Kiai Lutfi untuk anak-anak kita di masa depan,” pungkasnya.