Pramono Sebut Belum Perlu Hujan Buatan Meski Jakarta Terasa Lebih Panas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menggunakan payung saat berjalan di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (16/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warga menggunakan payung saat berjalan di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (16/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan belum akan melakukan rekayasa cuaca atau hujan buatan, meski suhu panas tengah melanda Jakarta dalam beberapa hari terakhir.

“Jakarta masih belum memerlukan dibuat hujan buatan,” ujar Pramono usai pelepasan Mudik Gratis di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa (17/3).

Ia menjelaskan, berdasarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca panas memang terjadi. Namun, ada potensi hujan dengan intensitas menengah saat Idul Fitri.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno usai pelepasan Mudik Gratis di Monas, Jakarta Pusat, Selasa (17/3). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

“Yang pertama untuk menghadapi Idul Fitri memang data BMKG menunjukkan sebelumnya itu cuacanya panas. Tetapi pada saat Idul Fitri ada kemungkinan curah hujan menengah,” jelas Pram.

Sebelumnya, Pramono telah angkat bicara soal kondisi cuaca panas yang belakangan dirasakan warga Jakarta.

Ia mengatakan, berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu panas diperkirakan terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Warga menggunakan payung saat berjalan di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (16/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

“Jadi untuk, memang diperkirakan BMKG pada satu, dua, tiga hari ini cuacanya cukup panas, termasuk hari ini,” kata Pramono usai menghadiri upacara Melasti di Pura Segara, Jakarta Utara, Minggu (15/3).

Meski demikian, ia menyebut kondisi tersebut masih disertai kemungkinan hujan ringan di beberapa wilayah.

Pramono juga menyebut prediksi cuaca menunjukkan kemungkinan adanya hujan saat mendekati perayaan Nyepi maupun Idul Fitri.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menunjukkan peta wilayah prediksi sifat musim kemarau terhadap normalnya saat konferensi pers prakiraan awal musim kemarau 2026 di Gedung D BMKG, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab menyebut kondisi tersebut dipicu oleh minimnya tutupan awan hingga fenomena atmosfer global yang sedang berlangsung. Ia mengatakan suhu udara yang terasa terik dalam beberapa hari terakhir berkaitan dengan kondisi langit yang relatif cerah.

“Hasil pengamatan BMKG dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa suhu maksimum mencapai kisaran 34-36 celcius,” jelas Fachri saat dihubungi kumparan, Minggu (15/3).

Menurut dia, kondisi tersebut terjadi karena tutupan awan sangat sedikit sehingga radiasi matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi sejak pagi hingga siang hari.