Pramono Sebut Selama Industri Masih Pakai Batu Bara, Polusi di Jakarta Tetap Ada

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta masyarakat mengurangi aktivitas pembakaran dan industri yang masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Menurutnya, selama aktivitas tersebut masih berlangsung, persoalan polusi di Jakarta akan tetap terjadi.
Hal itu disampaikan Pramono usai menghadiri peresmian operasional Rumah Sakit Toto Tentrem di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (24/8).
Pramono meminta masyarakat, terutama yang melakukan pembakaran, untuk mengurangi aktivitas tersebut. Dia juga meminta industri yang masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar untuk menguranginya.
“Saya meminta kepada masyarakat, terutama yang melakukan pembakaran, kemudian industri-industri yang masih menggunakan bahan bakarnya batu bara, kalau mereka tidak mengurangi, maka tekanan [polusi] ke Jakarta akan semakin tinggi,” kata Pramono.
Menurut Pramono, penggunaan kendaraan listrik di Jakarta, baik untuk bus maupun kendaraan pribadi, sudah cukup masif. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup apabila pembakaran dan penggunaan batu bara masih berlangsung.
“Padahal Jakarta ini penggunaan mobil listrik, baik itu untuk bus maupun pribadi, bahkan kemarin Bapak Presiden sudah mencanangkan untuk motor dibuat listrik. Sebenarnya gerakannya sudah cukup masif,” ujarnya.
Pramono menilai persoalan polusi masih akan terjadi selama aktivitas pembakaran dan penggunaan batu bara belum dikurangi.
“Tetapi selama pembakaran dan penggunaan bahan bakar batu bara masih terjadi, menurut saya ini akan tetap terjadi,” ujar Pram.
Pernyataan Pramono tersebut disampaikan di tengah persoalan polusi udara Jakarta yang juga dipengaruhi sumber emisi dari luar wilayah ibu kota.
Berdasarkan riset Institut Teknologi Bandung (ITB), seandainya Jakarta mencapai kondisi nol emisi, ibu kota tetap tidak sepenuhnya terbebas dari polusi. Riset tersebut menemukan kontribusi PM2.5 dari luar Jakarta berada pada kisaran 26-54 persen, dengan rata-rata sekitar 38,5 persen.
Temuan itu menunjukkan kualitas udara di Jakarta tidak hanya dipengaruhi sumber emisi dari dalam wilayah ibu kota, tetapi juga dipengaruhi dari wilayah sekitarnya
