Pramono soal Kembang Api Maulid di Tengah Malam: Tak Elok, Ganggu Ketertiban

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam jumpa pers usai melayat di Rumah Duka Guruh Soekarnoputra di Jalan Sriwijaya Jaksel, Sabtu (26/9). Foto: Kevin Daniel/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam jumpa pers usai melayat di Rumah Duka Guruh Soekarnoputra di Jalan Sriwijaya Jaksel, Sabtu (26/9). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi penggunaan kembang api dalam sebuah acara Maulid Nabi di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Penggunaan kembang api itu menjadi soal karena dinyalakan tengah malam selama 1 jam hingga memicu protes warga dan menyebabkan kericuhan.

"Kebetulan saya mengikuti begitu peristiwa terjadi. Itu kan hampir jam 00.30 malam. Kurang lebih jam 02.00 saya membaca itu, kemudian saya meminta kepada jajaran Pemerintah DKI Jakarta untuk berperan," kata Pramono saat ditemui usai meninjau fasilitas saringan sampah TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (5/10).

Menurut Pramono, penggunaan petasan hingga dini hari tidak sepatutnya dilakukan apabila sampai mengganggu ketertiban masyarakat. Terlebih, ia menyebut, ada anak yang sensitif terhadap suara petasan.

"Tidak elok lah bahwa sudah jam 01.00 malam masih menyembunyikan petasan dan sebagainya. Kebetulan anaknya Ibu tadi kan memang sensitif terhadap petasan dan sebagainya," ujarnya.

Ilustrasi kembang api. Foto: Zaki Zulfikar/Shutterstock

Pramono berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi. Ia menegaskan kegiatan yang menggunakan petasan perlu dibatasi agar tidak mengganggu ketertiban warga.

"Dan saya minta ini mudah-mudahan tidak terulang kembali," katanya.

"Hal yang berkaitan dengan itu kita batasi. Kalau memang jam masih jam sore, monggo saja, tapi jangan kemudian mengganggu ketertiban masyarakat," tambah Pramono.

Sebelumnya, Acara peringatan Maulid Nabi dan haul oleh warga di Jalan Kramat 2, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, berujung ricuh pada Sabtu (3/10) dini hari.

Dalam unggahan yang viral, kericuhan diduga bermula dari penggunaan kembang api bersuara keras berdurasi panjang dalam acara tersebut.

Kembang api disebut dinyalakan intensif kurang lebih satu jam, sekitar pukul 00.00 WIB hingga pukul 01.00 WIB dini hari, sehingga mengganggu warga yang sedang beristirahat.

Sejumlah anak disebut terbangun dan menangis akibat suara ledakan kembang api yang terdengar hingga jarak cukup jauh ini.

Situasi kemudian memanas setelah seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) mendatangi lokasi untuk protes kepada pihak yang menggelar acara. Protes ini memicu keributan kedua pihak.