Pramono Ungkap Problem Jakarta: Ketimpangan Orang Kaya dan Miskin

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sambutan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada acara Zikir Kebangsaan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sambutan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada acara Zikir Kebangsaan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut ketimpangan antara orang kaya dan miskin menjadi salah satu problem utama Jakarta.

“Bapak Ibu saudara saudari sekalian. Sebagai Gubernur Jakarta, problem utama Jakarta adalah yang disebut dengan gini ratio dan orang miskin,” kata Pramono dalam acara Doa Bersama dan Zikir Kebangsaan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Minggu (9/8).

Menurut Pramono, Jakarta menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai tingkat ekonomi. Kondisi tersebut membuat persoalan kesenjangan menjadi tantangan yang perlu diperhatikan pemerintah.

“Semua orang kaya ada di Jakarta. Sebagian orang yang tidak mampu, tidak beruntung juga ada di Jakarta,” ujarnya.

Pramono kemudian menyinggung angka rasio gini Jakarta yang mencapai 0,422.

Rasio gini merupakan indikator statistik untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan atau pengeluaran penduduk di suatu wilayah. Nilainya berkisar antara 0, yang menunjukkan pemerataan sempurna, hingga 1 yang menunjukkan ketimpangan sempurna.

Semakin rasio gini mendekati 1, kesenjangan ekonomi semakin lebar. Sementara jika semakin mendekati 0, distribusi pendapatan semakin merata.

“Maka ada yang disebut dengan gini ratio yaitu perbandingan orang kaya dan miskin di Jakarta paling besar, 0,422,” katanya.

Menurut Pramono, persoalan Jakarta juga tidak hanya menyangkut penduduk yang secara administratif tinggal di dalam wilayah DKI Jakarta. Aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat di kawasan aglomerasi turut bergantung pada Jakarta.

“Orang yang menggantungkan kehidupan dan Jakarta kurang lebih sekarang ini hampir 40 juta. Karena aglomerasi sumber utamanya dari Jakarta,” tuturnya.