Pramono Wanti-wanti Camat & Lurah se-Jakarta: Jangan Ada Lagi Pungli
·waktu baca 2 menit

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan tidak ada ruang bagi praktik pungutan liar (pungli) dalam pelayanan publik.
Peringatan itu ia sampaikan ke para camat dan lurah se-DKI Jakarta dalam townhall meeting di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (3/12).
Pramono menekankan dirinya tidak akan mentoleransi pungli dalam bentuk apa pun.
“Sehingga dengan demikian, saya sungguh berharap persoalan layanan publik di bawah, jangan ada lagi saya mendengar pungutan-pungutan liar. Jangan ada lagi. Dan untuk yang seperti ini, sebagai Gubernur saya enggak memberikan toleransi. Secara terbuka saya sampaikan,” tegas Pramono.
Sebaliknya, ia menyatakan siap memberikan apresiasi dan promosi jabatan bagi camat dan lurah yang berprestasi.
“Tetapi kalau Saudara-Saudara berprestasi, saya orang yang kemudian tidak segan-segan untuk mempromosikan Saudara-Saudara sekalian. Bagi saya, enggak perlu kemudian antrean birokrasi yang berkepanjangan,” ujarnya.
Pramono juga menceritakan dirinya sempat berinteraksi dengan salah seorang camat yang duduk di sebelahnya.
“Tadi langsung saya tanya sama Bu Camat sebelah saya, Ibu jadi Camat sudah berapa lama. Ibu IPDN-nya angkatan berapa, sampai hafal saya, angkatan 5 katanya. Ibu nasibnya baik aja sebelah saya, pasti saya akan ingat terus Bu,” kata Pramono.
Selain menekankan integritas pelayanan publik, Pramono juga mengingatkan pentingnya komunikasi kebijakan yang transparan ke masyarakat.
Menurutnya, kualitas sebuah keputusan harus dibarengi penyampaian yang benar agar publik bisa memahami manfaatnya.
“Apa pun yang kita lakukan harus bisa juga kita komunikasikan secara baik di ruang publik. Sebaik apa pun putusan-putusan yang kita buat, tetapi kalau kemudian tidak terkomunikasikan secara baik melalui media yang ada, publik juga tidak tahu,” ujar Pramono.
Ia mengingatkan agar komunikasi publik tidak dibuat berlebihan atau terkesan menjadi konten tertentu.
“Enggak boleh terlalu berlebihan, apalagi kemudian, mohon maaf, dibuat seakan-akan menjadi konten tertentu,” kata Pramono.
“Enggak apa-apa, konten enggak apa-apa, tetapi intinya saya berkeinginan bahwa Jakarta, mari kita bangun bersama-sama dengan apa adanya. Yang baik ya baik, yang kurang-kurang kita perbaiki dan sebagainya,” lanjutnya.
